Ngopi Pagi

FOKUS: Semangat Pemuda untuk Guncang Dunia Masih Ada

Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, dan beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia"

Penulis: m nur huda | Editor: m nur huda
tribunjateng/bram/cetak
Tajuk Ditulis Oleh Jurnalis Tribun Jateng, M Nur Huda 

Tajuk Ditulis Oleh Jurnalis Tribun Jateng, M Nur Huda

TRIBUNJATENG.COM - Hari ini, 93 tahun lalu, tepatnya 28 Oktober 1928, pemuda dari perwakilan berbagai daerah di tanah air berkumpul dalam ajang Kongres Pemuda di Jakarta saat itu Batavia, kemudian merumuskan Sumpah Pemuda.

Momentum itu kemudian menjadi pijakan untuk membangkitkan semangat generasi muda Indonesia, mengajarkan nilai-nilai persatuan, menumbuhkan kebanggaan, dan menekankan rasa bangga terhadap Bahasa Indonesia.

Eksistensi pemuda telah banyak tercatat dalam sejarah dunia. Banyak tokoh-tokoh penggerak sekaligus perumus peradaban dunia diprakarsai pemuda.

Dalam jiwa pemuda, terdapat semangat, kreatifitas, revolusioner, dan tangguh. Jiwa ini kemudian pernah dijadikan spirit untuk membangun semangat pemuda oleh Soekarno yang populer dengan ungkapan berikut;

"Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, dan beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia".

Ungkapan Soekarno itu mengandung legacy yang kaya makna. Ungkapan yang mampu membangun jiwa nasionalis, progresif dan revolusioner. Ungkapan yang menjadi dasar pemahaman bahwa masa depan sebuah peradaban ditentukan oleh generasi muda.

Soekarno paham, bahwa pemuda adalah generasi penerus yang selalu siap menghadapi tantangan bangsa. Ia menyadari, di tangan pemuda estafet kepemimpinan bangsa Indonesia berada.

Pemahaman itu sejalan dengan ungkapan, Syubbanul Yaum Rijalul Ghad “pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan”.

Hari ini, zaman telah berubah. Perkembangan teknologi informasi digital telah mengubah aktivitas sosial. Adanya media sosial, generasi digital mampu mengakses informasi secara luas, mengoreksi, berdialog, mengapesiasi, bahkan berkonsolidasi.

Di era inilah generasi muda Indonesia membutuhkan bimbingan agar mampu menerapkan jiwa mudanya ke arah yang sesuai dengan nilai-nilai dalam ideology bangsa.

Perlunya sinkronisasi pengetahuan antara ‘orang tua’ yang memiliki pengalaman ‘makan asam garam’ dengan generasi digital. Semangat juang leluhur di Nusantara harus diwariskan ke pemuda masa kini.

Hari ini pula, Negara-negara di dunia (kecuali Amerika Serikat dan Rusia yang sudah lebih dahulu) tengah berlomba menciptakan inovasi teknologi penerbangan luar angkasa.

China, korea Selatan, India dan Arab Saudi sedang berlomba meluncurkan roket buatan dalam negeri ke luar angkasa. Bahkan, Korea Utara, telah menempatkan satelit seberat 300 kilogram ke orbit Bumi pada tahun 2012 lalu.

Yang terjadi di Indonesia, dapat dilihat di media sosial selalu terjadi perdebatan isu tak bermutu yang membuang energi. Mestinya, semangat bermedia sosial bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan hasil inovasi serta argumentasi berdasar literasi guna kemajuan bangsa.

Pemerintah mulai dari pemerintah daerah hingga pusat, harus mampu mengambil momentum ini untuk membangun budaya digital yang sarat dengan inovasi. Program perencanaan pembangunan, baik oleh eksekutif maupun legislatif mestinya mulai memberi porsi lebih pada sektor tekologi informasi digital.

Bertumpu pada ungkapan Soekarno di atas serta memahami jiwa semangat pemuda, diharapkan pengetahuan generasi digital benar-benar teraplikasi dengan benar. Meski zaman telah berubah tapi percayalah, semangat gerakan pemuda Indonesia untuk mengguncang dunia masih ada dan tak akan berubah. Merdeka!

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved