Persaingan Era Digital Dimulai, Bank Besar Belum Tentu Menang
Saat ini banyak bank kecil bertransformasi menjadi bank digital. Bank tradisional besar juga tak mau ketinggalan memasuki persaingan bank digital.
TRIBUNJATENG.COM, DENPASAR - Semua bank di Tanah Air pada akhirnya akan menjadi bank digital, di mana saat ini merupakan start baru bagi perbankan memasuki era digital.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak mendefinisikan bank digital sebagai suatu bank jenis baru. Bank hanya dibedakan menjadi bank umum dan Bank Pekreditan Rakyat (BPR).
Saat ini sudah banyak bank kecil bertransformasi menjadi bank digital. Bank tradisional besar juga tidak mau ketinggalan untuk memasuki persaingan bank digital.
Namun, bank besar tidak bisa berhadapan secara langsung dalam persaingan digital. Itu sebabnya mereka melakukan strategi proxi dengan mengakuisisi bank kecil, dan menjadikannya sebagai bank digital.
Yang teranyar, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) sedang dalam proses akuisisi bank kecil untuk dikembangkan menjadi bank digital. Perseroan juga bakal menggandeng perusahaan teknologi untuk mengembangkan bank digital tersebut.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sudah punya BCA Digital yang beroperasi lewat aplikasi Blu, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) akan memasuki persaingan lewat anak usahanya PT Bank Raya Tbk.
Sementara, PT Bank Mandiri Tbk cukup percaya diri dengan bermodalkan Super App Livin' By Mandiri dan Wholesale Digital Super Platform KOPRA by Mandiri.
Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi mengatakan, Bank Mandiri mampu mendigitalisasi hampir seluruh layanan transaksi nasabah. Alhasil, lebih dari 98 persen transaksi ritel dilakukan secara digital.
"Seiring dengan pertumbuhan jumlah pengguna, laju transaksi finansial nasabah Bank Mandiri melalui Livin' by Mandiri tumbuh 62,5% year on year (yoy) menjadi 696,2 juta transaksi dengan nilai transaksi Rp 1.152,5 triliun per akhir September 2021, atau tumbuh 55,8 persen yoy.
Adapun, bank yang langsung bertransformasi menjadi bank digital di antaranya ada PT Bank Jago Tbk dan Bank Neo Commerce Tbk.
Bank Jago mengandalkan aplikasi Jago. Namun, saat ini baru tahap melayani transaksi funding dan pembayaran. Untuk masuk ke penyaluran kredit, Bank Jago masih butuh waktu.
Direktur Kepatuhan dan Sekretaris Perusahaan Bank Jago, Tjit Siat Fun mengungkapkan, hingga kini pihaknya belum menyalurkan kredit langsung kepada debitur secara digital melalui platformnya. Sebagian besar kredit Bank Jago disalurkan lewat kerja sama parnertship atau channeling.
"Ke depan, strategi penyaluran kredit Bank Jago tetap lewat kerja sama. Pasar yang dibidik untuk segmen usaha kecil menengah adalah rantai pasok dari korporasi," jelasnya.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah mengatakan, bank digital sudah menjadi keniscayaan dalam menghadapi persaingan industri perbankan. Saat ini dinilai merupakan garis permulaan baru pertandingan industri perbankan.
Dalam perlombaan sebelum era digital, menurut dia, pemenangnya merupakan bank-bank besar. Namun, dalam perlombaan persaingan baru ini, bank besar tersebut belum tentu bisa menjadi pemenang, meskipun sudah mulai membentuk anak usaha yang bergerak jadi bank digital.
"Pemenang-pemenang persaingan yang kita lihat selama ini adalah mereka yang sudah visioner sejak awal. Dalam persaingan yang baru dimulai ini, para pemenang kompetisi sebelumnya belum tentu bisa jadi pemenang di era digital ini. Apa yang menjadi keunggulan di masa lalu sudah tidak berlaku di era ini," jelasnya, di Bali, pekan lalu.
Dengan banyak bank sudah mulai memasuki start baru persaingan bank digital, Piter menuturkan, bank digital yang akan lebih cepat tumbuh dan berkembang adalah bank yang tidak memiliki beban masa lalu seperti Bank Jago.
Ia melihat bank-bank besar memiliki beban masa lalu, karena culture merupakan hal yang paling susah diubah dalam bisnis bank. Tidak mudah bagi bank-bank trandisioanal yang memiliki operasional yang luas untuk mengubah budaya SDM menjadi digital.
Selain itu, Piter menyatakan, tidak gampang juga buat bank untuk mengurangi kantor cabang. Di era digital ini, aset akan menjadi beban bagi bank. Apalagi di bank-bank BUMN tidak mudah bagi mereka untuk menjual aset-asetnya karena ada regulasi yang membatasi.
Kendati bank-bank yang tidak punya beban masa lalu bisa berlari lebih cepat di awal, ia menilai, hal itu juga tidak menjadi jaminan mereka bisa menjadi pemenang.
Piter berujar, pemenangnya akan sangat tergantung pada ketahanan dan konsistensi mereka melakukan inovasi. "Tapi saat ini belum tahu siapa yang akan jadi pemenang, karena ini persaingannya maraton," imbuhnya. (Kontan.co.id/Dina Mirayanti Hutauruk/Ferrika Sari)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/permata-bank-1.jpg)