Wawancara

WAWANCARA Brigjen Ahmad Nurwahid Direktur Pencegahan BNPT : Mewaspadai Paham Radikalisme (1)

PAHAM radikalisme dan terorisme sudah sejak lama tumbuh di bumi pertiwi Indonesia. Terbaru, 59 anak-anak di Garut, Jawa Barat

Tribunnews/JEPRIMA
Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ahmad Nur Wahid bersama Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan saat mengikuti sesi wawancara khusus dengan Tribun Network di Gedung Tribunnews, Jakarta Pusat, Kamis (1/4/2021). Pada pembahasan kali ini mengangkat isu terorisme yang ada saat ini. 

PAHAM radikalisme dan terorisme sudah sejak lama tumbuh di bumi pertiwi Indonesia. Terbaru, 59 anak-anak di Garut, Jawa Barat dikabarkan telah terpapar dan dibaiat oleh Negara Islam Indonesia (NII).

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Ahmad Nurwahid mengatakan, salah satu strategi dan proteksi awal bagi masyarakat agar terhindar adalah dengan kesiapsiagaan nasional terutama dari sisi ideologi. Wahid menyebut vaksinasi ideologi tetap dibutuhkan sebab sebanyak 87,8 persen masyarakat Indonesia yang terbilang moderat masih berpotensi terpapar.

Berikut wawancara khusus Tribunnetwork dengan Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Ahmad Nurwahid, Jumat (29/10).

59 anak terpapar paham radikal, bagaimana cara merecovery korban?

Menurut UU 5/2018, penanggulangan terorisme dilakukan dengan pendekatan holistik dari hulu sampai hilir. Hulunya adalah pencegahan terkait radikalisme yang menjiwai semua aksi terorisme. Kalau terorismenya okelah sudah ada law enforcementnya.

Untuk radikalismenya ini ada tiga strategi sebagai amanah UU yang breakdownnya pada PP 77/2019. Pertama adalah kesiapsiagaan nasional. Kesiapsiagaan nasional di sini tidak hanya dipahami sebagai kesiapsiagaan fisik, pasukan, manajemen dan sebagainya tetapi lebih dari pada itu juga kesiapsiagaaan ideologi.

Karena radikal terorisme ini kan akar masalahnya ideologi. Ideologi yang menyimpang. Ideologi yang mengalami distrorsi bahkan para ulama di Timur Tengah atau ulama internasional dalam konferensi internasional Februari tahun 2021 menyebutkan, ekstremisme atau radikalisme dalam terminologi Indonesia adalah paham yang dibangun atas manipulasi dan distorsi agama.

Maka kesiapsiagaan nasional ini adalah kesiapsiagaan ideologi dengan kita semuanya terutama para ulama, tokoh agama, melakukan vaksinasi ideologi terhadap 87,8% masyarakat Indonesia yang masih moderat tapi tetap juga berpotensi terpapar itu diberikan moderasi beragama, moderasi berbangsa, tentang wawasan kebangsaan, nasionalisme, nilai-nilai Pancasila, nilai-nilai sejarah bangsa dengan pendekatan agama.

Kedua, terhadap mereka yang 12,2% dia OTG. Dia tidak sadar kalau dirinya terpapar. Maka kita lakukan yang namanya kontraradikalisasi yang isinya adalah kontra ideologi, kontra propaganda, dan kontra narasi. Terutama di dunia maya. Karena masifitas radikalisasi ini adalah melalui dunia maya.

Dan banyak konten intoleran dan radikal di dunia maya. Bahkan mencapain 67%. Ini kita otomatis melakukan kontraradikalisasi dan saat ini kita memiliki regulasi berupa Perpres nomor 7/2021. Perpres 7/2021 itu tentang RAN PE atau Rencana Aksi Nasional Penanggulangan dan Pencegahan Radikalisme atau Ekstremisi berbasis Kekerasan mengarah kepada Terorisme.

Strategi ketiga adalah deradikalisasi. Deradikalisasi ini adalah upaya proses untuk mengembalikan mereka yang terpapar paham radikal menjadi moderat. Minimal mengurangi tingkat keterpaparannya. 

Anak-anak muda yang sudah terpapar ini kita apakan?

Itu menjadi PR kita semuanya. Makanya kami di BNPT, terutama di direktorat pencegahan ini kan punya mitra dan kepanjangan tangan di 34 provinsi yaitu FKPT, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme. Pencegahan ini bukan seperti yang dilakukan law enforcement atau densus. Tapi pencegahan di sini di bidang kesiapsiagaan nasional, kontraradikalisasi tadi.

Pertama bidang agama, sosial, dan budaya. Kedua, bidang pemberdayaan perempuan dan anak. Ketiga, bidang pemuda dan pendidikan. Keempat, bidang media untuk melakukan kontra-kontra radikalisasi di media. Kelima, melalukan riset penelitian.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved