Hari Wayang, Ki Enthus Susmono Adalah Don Juan, Dalang Edan Penentang Pakem
Aksi panggung Enthus yang cukup melekat di ingatan yakni ketika Enthus menghajar wayangnya.
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dalam setiap pementasan di satu televisi swasta, ketika dalang Ki Enthus Susmono keluar dari belakang layar untuk memulai dalang, biasanya disertai alunan gamelan dan audio narasi.
Narasi yang keluar biasanya terkait biografi singkat dari seorang Enthus. Termasuk kenapa dipanggil dalang 'edan', 'ghendeng', 'mbeling' yang awal mulanya diperkenalkan oleh para jurnalis yang meliput pertunjukan Enthus.
Aksi panggung Enthus yang cukup melekat di ingatan yakni ketika Enthus menghajar wayangnya, seolah-olah seorang dalang terlibat dan berinteraksi langsung dengan wayangnya.
Adegan berkelahi Enthus dengan wayang karakter raksasa Buto tersebut dinilai memberikan stigma jelek di dunia pedalangan, maklum masih terkesan konservatif. Ada juga yang mengatakan merusak pakem dan tatanan.
"Enthus dikenal dengan dalang 'edan', 'gendeng', 'slebor', banyak sekali sebutan negatif untuknya. Mbeling itu sulit dikendalikan atau membangkang. Sedangkan sableng itu tidak waras atau gila. Sebutan ini, tidak membuat Enthus marah dan kecewa. Tapi ini justru dijadikan label oleh Ki Enthus," kata dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Dr Sugeng Nugroho pada webinar yang dikutip Minggu (7/11/2021).
Sugeng menjelaskan, julukan atau nama tambahan dengan kata berkonotasi negatif yang disandingkan nama seorang dalang, baru muncul di era tahun 80-an.
Dimulai dengan Ki Manteb Sudarsono dengan julukan 'Dhalang Setan', lalu Ki Djoko 'Edan' Hadiwidjojo, 'Dhalang Mbeling' Enthus Susmono, Ki Warseno 'Slenk', Ki Sun 'Gondrong', Ki Narto 'Gemblung', Ki Exwan Susanton 'Greng'.
Enthus dikenal sebagai dalang yang menolak tunduk pada zona nyaman atau aturan-aturan pedalangan yang ada.
Ia jauh dari kesan dalang yang tampil kalem, jaga wibawa serta menonjolkan citra adiluhung yang dipraktikan sekolah dalang di keraton.
Enthus merupakan antitesis dari aturan-aturan pedalangan yang ada. Dia berani mendobrak pakem yang selama ini dipakai dengan tata cara kratonan, baik cara Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta.
"Sebetulnya, seni pedalangan awalnya merupakan seni rakyat, bukan keraton. Dengan cirinya, yakni nuansa yang dibangun dengan kebersamaan dan keakraban baik antarpemain maupun antarpemain dan penonton. Mereka secara fisik dan nonfisik tidak ada jarak, peralatan pentas sederhana, mereka tidak mengenal adanya paugeran pedalangan. Yang penting semangat gropyok ramai," katanya.
Pembakuan etika dan estetika pedalangan sempat dibukukan di Padhasuka (1923) dari Kasunanan Surakarta, Habirandha (1925) dari Kasultanan Yogyakarta, dan PMDN (1931) yang merupakan sekolah dalang di Pura Mangkunegaran.
Namun demikian, kata dia, aksi Enthus tersebut berpengaruh pada sejumlah dalang di Tanah Air. Sebut saja Ki Narto 'Gemblung' dari Blora dan Ki Redi 'Mbelung' dari Blitar yang kerap menari di panggung dalang.
Kemudian Ki Seno Nugroho (Yogyakarta) yang kerap berinteraksi dengan para pesinden.
Hal senada juga diungkapkan dosen ISI Yogyakarta, Hariyanto. Enthus kerap mengklaim bahwa gaya yang dimainkan dalam pakeliran merupakan Gagrak Tegalan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/belajar-dari-ki-enthu-susmono.jpg)