Breaking News:

Berita Semarang

Jagung Ketan Ungu Mulai Diminati Petani Pati, Karakternya Lengket

Varietas jagung ketan atau jagung ungu mulai dilirik petani di Pati. Varietas ini dinamakan jagung ketan karena teksturnya yang pulen, dan lengket.

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: moh anhar

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Varietas jagung ketan atau jagung ungu mulai dilirik petani di Pati.

Varietas ini dinamakan jagung ketan karena teksturnya yang pulen, lengket, dan kenyal setelah dikukus atau direbus. Hal ini karena jenis jagung ini memiliki kandungan amilopektin tinggi.

Kemudian, jagung ini juga disebut jagung ungu karena bulir-bulirnya tidak berwarna kuning seperti jagung biasa, melainkan berwarna ungu.

Satu di antara petani di Pati yang mulai menanam varietas ini ialah Yustam, warga Desa Tendas, Kecamatan Tayu.

Ladangnya yang berada di Desa Tayu Wetan ia tanami jenis jagung ini sejak awal 2020 lalu.

“Saya mulai tanam jagung ketan warna ungu dari awal 2020. Ini tahun kedua saya tanam jagung ungu. Besok Senin (8/11/2021) saya akan panen yang kelima,” ujar dia, Sabtu (6/11/2021).

“Mulanya saya tertarik karena unik. Warnanya ungu. Saya jadi petani jagung manis sudah 10 tahun. Begitu ada inovasi baru dari East-West Seed Indonesia yang dinamai Jantan (Jagung Ketan Ungu Antioksidan) F1 ini, akhirnya saya coba ini karena memang saya suka mencoba hal baru,” tambah dia.

Yustam menuturkan, selain cita rasanya berbeda, jagung ketan ungu juga memiliki kandungan antosianin tinggi yang berfungsi sebagai antioksidan, sehingga mampu mencegah berbagai penyakit, di antaranya kanker.

Ia mengatakan, secara umum perawatan jagung ketan ungu sama dengan perawatan jagung biasa. Namun, perlu penanganan khusus terhadap pengendalian penyakit bulai. Karena jenis jagung ini cenderung lebih peka terhadap penyakit bulai.

“Nilai ekonomis-nya saat ini juga sangat menarik. Harga di tingkat petani sekitar Rp 5 ribu per kilo termasuk tongkol dan klobotnya. Namun pasarnya belum terlalu terbuka, mayoritas jagung ketan ungu dikirim ke kota besar, seperti Jakarta, Jogja, Surabaya, Bandung, dan Semarang,” kata dia.

Yustam mengaku, selama ini dia tidak mengalami kendala dalam menjual hasil panen jagung ungu.

Ia menyebut, sejak mulai diperkenalkan di Pati sekira dua tahun lalu, popularitas varietas jagung ini mulai merangkak naik di kalangan petani.

Sementara, Petugas Lapangan Cap Panah Merah, Ijhad Rodlin, mengatakan bahwa selain di Tayu, pihaknya juga telah mengembangkan varietas jagung ketan ungu antioksidan (Jantan F1) ini di Wedarijaksa.

“Harga panen untuk sekarang masih tinggi. Bagus untuk petani. Adapun potensi produksinya mencapai 7-9 ton per hektare,” ucap dia. (mzk)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved