Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Dinasti Lunpia Semarang: Warisan Cinta Lima Generasi

Semarang identik dengan lunpia sebagai pilihan buah tangan hingga dijuluki Kota Lunpia.

Penulis: amanda rizqyana | Editor: sujarwo

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Membawa buah tangan selalu menjadi pilihan bagi setiap orang yang sekadar singgah, berwisata, kunjungan dinas, mengunjungi keluarga maupun handai taulan.

Kota Semarang sendiri identik dengan kuliner lunpia sebagai pilihan buah tangan hingga dijuluki sebagai Kota Lunpia.

Lun atau lum merupakan bahasa Hokkian yang bermakna empuk atau lembut tergantuk dialek pengucapannya.

Pia bermakna kue. Banyak orang melafalkan lunpia maupun lumpia untuk makanan yang digulung ini.

Tak banyak yang tahu bahwa makanan berbahan bambu muda atau rebung, telur, ayam, dan udang dan dibungkus kulit tipis ini merupakan makanan kolaborasi penuh cinta.

Lunpia bahkan diwariskan turun-temurun hingga lima generasi sejak lebih dari 1,5 abad lalu.

Awalnya, lunpia dijajakan keliling dengan gerobak pikulan, dibungkus kantong anyaman bambu atau brongsong dan hanya tersedia pilihan lunpia basah. Daya tahan lunpia basah hanya sekitar 12 jam.

Berjalannya wak

Pengemasan antrian pesanan lunpia di Loenpia Gang Lombok Jalan Gang Lombok Nomor 11 Kelurahan Purwodinatan Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang pada Selasa (9/11/2021) sore.
Pengemasan antrian pesanan lunpia di Loenpia Gang Lombok Jalan Gang Lombok Nomor 11 Kelurahan Purwodinatan Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang pada Selasa (9/11/2021) sore. (Tribun Jateng/Amanda Rizqyana)

tu, dilakukan kreasi lunpia baru yakni menggoreng lunpia dan menghasilkan lunpia yang memiliki daya tahan hingga 24 jam. Bahkan kini dilakukan pula inovasi dalam isian dan penyajian maupun pengemasan lunpia.

Lunpia dikreasikan oleh pasangan suami-istri Tjoa Thay You dari Fujien Tiongkok dan Wasih dari Semarang pada 1870. Kolaborasi penuh cinta ini menghasilkan lunpia yang dinikmati cabai rawit hijau, daun bawang, acar timun, dan saos weciau atau saos manis.

Warisan cinta ini tak hanya bisa dinikmati sebagai buah tangan, namun menjadi usaha keluarga pada keturunannya.

Keduanya mewariskan lunpia pada anak tunggal mereka, Tjao Po Nio dan sang menantu Siem Gwan Sing. Keduanya memiliki anak-anak yang juga menekuni lunpia, yakni: Siem Swie Nie, Siem Swie Yek, Siem Hwa Nio, Siem Swie Hie, hingga Siem Swie Kim.

Kelimanya mewariskan keahlian dan resep rahasia lunpia dari kakek-nenek mereka pada para keturunan mereka. Dari keturunan merekalah kemudian muncul Loenpia Gang Lombok, Loenpia Mbak Lien, Loenpia Pak Edy, Lunpia Delight atau Lunpia Cik Meme, Java Loenpia, dan Lunpia Mataram.

Kali pertama lunpia dipasarkan Gang Lombok Nomor 11 Kelurahan Purwodinatan Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang. Lokasi ini berada di depan Klenteng Tay Kak Sie.

Di sinilah lokasi cikal bakal lunpia semakin dikenal hingga orang-orang dengan mudah mengasosiasikan lunpia yang berada di Gang Lombok sebagai Lunpia Gang Lombok. Nama ini melekat hingga sekarang dengan lokasi yang sama sejak 150 tahun lalu.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved