Fokus
Fokus : Bencana Kasatmata
NYARIS dua tahun, energi dan perhatian kita terkuras oleh bencana tak kasatmata: Covid-19. Cengkeraman corona tidak hanya memapar pada level Pemerinta
Penulis: achiar m permana | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Achiar M Permana
Wartawan Tribun Jateng
NYARIS dua tahun, energi dan perhatian kita terkuras oleh bencana tak kasatmata: Covid-19. Cengkeraman corona tidak hanya memapar pada level Pemerintah Pusat. Bahkan hingga level kampung, RT dan RW, dampak thaun itu sangat terasa.
Akibat begitu kuatnya cengkeraman dan daya rusak Covid-19, kita seolah lupa pada bencana-bencana konvensional. Yang tidak kalah nyata. Yang lebih kasatmata.
Setidaknya, nyaris dalam dua tahun terakhir, kita seperti tidak mendengar adanya kasus demam berdarah dengue (DBD). Padahal, biasanya, pada pergantian musim, berita tentang DBD –mencakup peningkatan kasus dan angka mortalitas—menyita halaman surat kabar kita.
Nyaris dalam dua tahun terakhir pula, bencana konvensional dan rutin semacam banjir dan longsor seperti tidak lagi menakutkan. Padahal, banjir dan longsor itu jelas ancaman nyata, terlebih ketika intensitas curah hujan mulai meningkat, seperti beberapa waktu belakangan.
Peristiwa banjir bandang di Batu, Jawa Timur, Kamis (4/11/2021) silam, saya kira perlu menjadi pelajaran. Banjir bandang itu merusak tidak kurang dari 35 rumah, 30 kendaraan, dan membuat nyawa 6 warga melayang. Sejumlah warga juga dilaporkan hilang akibat “tsunami” lokal itu.
Provinsi Jawa Tengah juga menyimpan wilayah yang memiliki “potensi” serupa. Dua hari sebelum banjir bandang di Batu, pada 2 November 2021, peristiwa serupa menimpa Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Sedikitnya 32 rumah rusak diterjang banjir bandang akibat luapan Sungai Pelus di Wonosoco.
Selain banjir bandang, bencana longsor merupakan ancaman nyata. Longsor yang terjadi di Dusun Genengrejo, Desa Puntukrejo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, pada Minggu (7/11/2021), menelan korban jiwa.
Seorang warga tewas setelah tertimpa tembok, sebagai dampak longsor tebing di belakang rumahnya. Dua pekan sebelumnya, pada 21 Oktober 2021, longsor di Dusun Sidakarya, Desa Mlaya, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara, juga menewaskan seorang anak berusia tiga tahun.
Kehadiran sejumlah bencana pada awal musim penghujan ini, seharusnya menjadi perhatian sekaligus pelajaran untuk semakin waspada.
Bukan tidak mungkin, meski tidak ada satu pun orang waras yang menghendaki, masih bakal ada banjir yang lebih besar ketimbang banjir bandang Batu atau Wonosoco. Bisa juga masih bakal ada longsor yang lebih besar dari Ngargoyoso atau Punggelan.
“Sampean ki lo, Kang, senengane meden-medeni. Mbok sing rada optimistik ngono lo,” tiba-tiba Dawir, sedulur batin saya, nyeletuk dari balik tengkuk.
Kewaspadaan akan bencana-bencana konvensional, seperti banjir atau longsor, merupakan keniscayaan. Apalagi kondisi alam kita, meminjam istilah Ebiet G Ade, memang “tidak bersahabat”.
Atau, barangkali yang lebih akurat, selama ini kita yang “tidak bersahabat” dengan alam. Perusakan yang tidak terkendali, dengan dalih perekonomian atau pendapatan daerah, merupakan indikator nyata bahwa kebanyakan kita cenderung “lamis”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/achiar-m-permana_20170811_073817.jpg)