Guru Berkarya
Menumbuhkan Percaya Diri dalam Berbahasa Inggris dengan TPS
Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional dan merupakan salah satu bahasa wajib yang harus dikuasai oleh para siswa.
Oleh: Sri Rejeki SPd, Guru Bahasa Inggris SMKN 1 Pemalang
BAHASA Inggris merupakan bahasa internasional dan merupakan salah satu bahasa wajib yang harus dikuasai oleh para siswa. Penguasaaan Bahasa Inggris bagi para siswa tidak terlepas dari kemampuan para guru mata pelajaran tersebut dalam memberikan pembelajaran dikelas. Dalam mempelajari bahasa inggris ada empat ketrampilan dasar yang harus dikuasai oleh para siswa, yaitu kemampuan membaca, kemampuan menulis, kemampuan berbicara, serta kemampuan untuk mendengarkan atau menyimak.
Model pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar di dalam kelas juga sebagai pedoman bagi para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. Untuk itu salah satu model pembelajaran yang digunakan oleh guru adalah model pembelajaran Think Pair Share (TPS). Menurut Arends (1997:21), Think Pair Share (TPS) merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas.
Dalam penerapannya, TPS mempunyai beberapa langkah. Pertama, Berpikir (thinking). Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah.
Kedua, Berpasangan (pairing ). Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang diajukan menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidentifikasi. Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
Ketiga, Berbagi (sharing). Pada langkah akhir, guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangan dan melanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan mendapat kesempatan untuk melaporkan (Arends dalam Tjokrodihardjo, 2003).
Begitu halnya penerapan metode pembelajaran TPS yang diterapkan oleh penulis dan diberlakukan dalam proses pembelajaran pada para siswa kelas XI TKJ 1 di SMK Negeri 1 Pemalang. Dalam hal ini guru membagi siswa secara berpasangan.
Setelah itu guru memberikan materi yang sudah disesuaikan dengan RPP pada pertemuan tersebut yaitu materi tentang Opinion. Dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, guru akan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada para siswa yang akan dicari jawabannya oleh siswa bersangkutan yang dilanjutkan dengan mengkomunikasikan kepada siswa lain sebagai pasangan diskusinya.
Pada akhirnya siswa tersebut akan saling mengemukakan pendapat serta hasil diskusinya kepada siswa yang lain secara klasikal. Guru akan menyimpulkan jawaban akhir atau kedimpulan dari semua pernyataan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
Penerapan metode TPS ini akan dapat memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk dapat mengekploitasi kemampuannya secara merat. Tidak didominasi oleh mereka yang secara mental dan pengetahuan lebih mampu untuk mengemukakan pendapatnya.
Dengan penerapan TPS sebagai model pembelajaran di dalam kelas, akan dapat meningkatkan rasa percaya diri dari para siswa karena mendapat kesempatan secara adil dari guru dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Diharapkan dengan pembelajaran model TPS ini siswa akan lebih terpacu dan termotivasi untuk lebih bersemangat dalam mengerjakan tugas dan mengikuti setiap materi yang diberikan oleh guru mata pelajaran. (*)