Breaking News:

Berita Jateng

Pedagang Menjerit Harga Minyak Goreng Tak Kunjung Turun

Sejumlah pedagang di Kota Semarang mengeluhkan harga minyak goreng yang tak kunjung normal dalam beberapa waktu terakhir.

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Catur waskito Edy
Tribun Jateng/ Idayatul Rohmah
Pedagang sembako di Pasar Karangayu Semarang sedang menuangkan minyak goreng curah ke dalam plastik yang diletakkan di atas timbangan, Selasa (26/10/2021).  

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Sejumlah pedagang di Kota Semarang mengeluhkan harga minyak goreng yang tak kunjung normal dalam beberapa waktu terakhir.

Pasalnya, harga minyak goreng baik curah maupun kemasan terus mengalami kenaikan, hingga membuat mereka kebingungan.

Hal itu seperti diungkapkan Miran, satu penjual olahan makanan yang berlokasi di Jalan Nakula, Pendrikan Kidul, Semarang Tengah.

Ia yang sehari-hari berjualan di sekitar kampus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) itu menuturkan, kenaikan harga bahan baku, termasuk minyak goreng, membuatnya maju mundur dalam membuka warung.

Sebab, menurut dia, kenaikan harga bahan baku itu membuatnya kesulitan untuk menyesuaikan harga dagangannya dengan segmen pasar mahasiswa, sementara kondisi pandemi covid-19 telah memberikan dampak negatif cukup signifikan pada usahanya.

"Kebanyakan pembeli di sini mahasiswa, sementara ketika pandemi kampus sering libur. Sudah sepi begini ditambah harga bahan baku seperti cabai dan minyak goreng yang terus naik, jadi pusing. Mau tidak buka tidak ada pemasukan, buka juga belum tentu dapat untung," keluhnya, di sela berjualan, Selasa (9/11).

Miran menuturkan, saat ini minyak goreng curah ia beli dengan harga Rp 19.000/kg di Pasar Bulu Semarang. Menurutnya, harga tersebut terlampau tinggi dibandingkan dengan harga normal yang biasanya berada di kisaran Rp 15.000/kg.

Di tengah sepinya pembeli itu, ia mengaku enggan untuk menaikkan harga makanan dagangannya, sebab khawatir hal itu bakal menyebabkan pembeli di warungnya semakin berkurang. 

"Harga masih tetap, tidak saya naikkan. Ya dalam kondisi seperti ini bawa untung Rp 20 ribu sehari sudah syukur. Kalau akhir pekan biasanya malah saya tutup, karena yang beli paling satu-dua orang," jelasnya.

Senada diakui pedagang eceran di Jalan Sri Rejeki Timur, Suparni. Ia yang tengah membeli stok di Pasar Karangayu Semarang, menyatakan, harga yang tidak stabil pada bahan baku membuatnya bingung dalam menentukan harga jual. Terlebih, ia tidak setiap hari datang ke pasar untuk kulakan.

"Harga minyak goreng dan telur ini gonjang-ganjing naik terus, saya jadi bingung karena kulakan tiga kali seminggu. Misal hari ini kulakan harga sekian, kemudian ternyata besoknya harga berubah, kan saya jadi bingung, mumet," ungkapnya.

Sementara itu, sejumlah pedagang di pasar Karangayu Semarang menyebut, harga minyak goreng telah mengalami kenaikan sejak 2 bulan terakhir. Juju, satu pedagang itu mengungkapkan, harga minyak goreng curah saat ini berada di kisaran Rp 19 ribu/kg, sedangkan minyak goreng kemasan berada di kisaran Rp 17 ribu/liter.

Begitu pula diakui Sri, pedagang lain. Menurutnya, kenaikan harga itu berpengaruh pada jumlah pembelian konsumen. "Naik terus 2 bulan ini. Pengaruhnya, pembeli biasanya beli empat (kemasan-Red), sekarang dikurangi," keluhnya. (idy)

Baca juga: Calon Pengganti Mangkunegara IX, Beberapa Kali Nonton Persis Solo, Ini Alasannya

Baca juga: Mobil Dijual Baru dan Bekas Semarang Murah Berkualitas Rabu 10 November 2021

Baca juga: Tanggapan KSAL Setelah Presiden Tunjuk Andika Jadi Calon Panglima TNI Tunggal

Baca juga: Loker Lowongan Kerja Karir Terbaru di Semarang Rabu 10 November 2021

Baca juga: Mengefektifkan Home Visit pada Pembelajaran Bahasa Indonesia

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved