Berita Video
Video Lunpia Gang Lombok Citarasa Otentik Membuat Pengunjung Rela Antri Berjam-Jam
Semarang identik dengan lunpia sebagai pilihan buah tangan hingga dijuluki Kota Lunpia.
Penulis: amanda rizqyana | Editor: abduh imanulhaq
Lunpia Gang Lombok dikenal sebagai lunpia dengan cita rasa otentik yang konsisten dan menjadi pilihan oleh-oleh lunpia. Pilihan lunpia hanya lunpia basah dan lunpia goreng seharga masing-masing Rp 18 ribu per biji.
Lunpia dibungkus kertas roti untuk menyerap minyak dan dikemas dalam besek bambu. Besek bambu kecil untuk lunpia isi 5 dan besek bambu besar untuk lunpia isi 10.
Di warung yang seluas sekira 10 m2 ini digunakan untuk mengolah bahan isian, menggulung lunpia, menggoreng lunpia, menyajikan lunpia, mengemas, hingga transaksi jual-beli lunpia. Nampak depan, kios ini penuh besek bambu yang masih dalam ikatan.
Konsep open kitchen yang ada di Loenpia Gang Lombok ini memberi gambaran proses pengolahan lunpia yang terjamin kualitas dan kesegarannya karena langsung dimasak, digulung, dan digoreng di tempat.
Menariknya, lunpia yang baru matang harus dikipasi agar lekas mendingin dan bisa segera dikemas. Alasan proses pendinginan dengan kipas ini agar lunpia tidak mengembun dan membuat lunpia menjadi kurang renyah dan kurang tahan lama.
Lokasi yang cukup sederhana ini nyaris tak pernah sepi pembeli, apalagi saat akhir pekan.
Vincent Setiawan Usodo, cucu dari Siem Swie Kim menyatakan ia mendapatkan amanat dari sang kakek untuk mempertahankan rasa dan kualitas lunpia otentik. Itulah alasannya tetap berpegang pada isian rebung, telur, udang, dan ayam dan tak ingin memodifikasi resep turun-temurun tersebut.
Tak hanya rasa yang tak berubah, pengemasan dengan besek bambu dan desain sampul kemasan pun belum berubah dengan ilustrasi klasik 1970an.
Meski demikian, sebagai orang yang bertanggung jawab atas keberlanjutan usaha keluarga, Vincent mengaku ingin bisa memberi kenyamanan pada konsumen. Ia menyadari banyak konsumen yang kecewa karena harus mengantri lama atau tak bisa mendapatkan lunpia kesayangannya.
"Kalau pas weekend, warung belum buka, pembeli ngantri sampai jalan, bahkan kami sendiri nggak bisa keluar dan masuk dari kios. Pembeli bisa menunggu sampai tiga jam untuk mendapatkan lunpia pesanannya," ujarnya pada Selasa (9/11/2021) sore.
Vincent mengaku, saat ini sebagian besar pemegang usaha lunpia merupakan generasi kelima, artinya relasi mereka masih sepupu.
Meskipun secara bisnis mereka merupakan kompetitor lunpia, menurutnya hal tersebut tak menjadi masalah.
Pasalnya bagaimana usaha keluarga besarnya membesarkan masing-masing jenama lunpia merupakan upaya untuk melestarikan kuliner khas Semarang. Mereka masih berkomunikasi dan tetap hangat saat berkumpul di momen keluarga.
Legendarisnya rasa Loenpia Gang Lombok diakui oleh Sonia, warga Solo yang kini tinggal di Jakarta.
Sudah 20 tahun lalu sejak kali pertama mencicipi lunpia hingga sekarang, menurutnya Loenpia Gang Lombok lah yang rasanya konsisten.