Breaking News:

Guru Berkarya

Model TGT Tingkatkan Ketrampilan dalam Pembelajaran Descriptive Text

Untuk menguasai keempat ketrampilan dasar tersebut dibutuhkan ketelatenan dari para guru dalam mentransfer materi kepada peserta didik.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Sri Rejeki SPd, Guru SMKN 1 Pemalang 

Oleh : Sri Rejeki SPd, Guru SMKN 1 Pemalang

KEMAMPUAN berbahasa Inggris para siswa tidak terlepas dari empat ketrampilan dasar berbahasa yaitu, Ketrampilan Membaca, Ketrampilan Menyimak, Ketrampilan Berbicara dan ketrampilan Menulis. Untuk menguasai keempat ketrampilan dasar tersebut dibutuhkan ketelatenan dari para guru dalam mentransfer materi kepada peserta didik.

Salah satu dari keempat ketrampilan tersebut yaitu keterampilan membaca dari para siswa terpengaruh pula dari bagaimana seorang guru menyampaikan materi tersebut di dalam kelasnya. Dalam tulisan kali ini, penulis akan mengangkat tema tentang penguasaan siswa terhadap salah satu bentuk teks yang ada dalam bahasa Inggris yaitu teks Deskriptif.

Teks deskriptif merupakan teks yang menggambarkan orang, benda, hewan, dan tempat. Dalam mempelajari teks deskriptif siswa akan diperkenalkan pada tujuan fungsional, struktur teks dan unsur kebahasaan.

Teks deskriptif yaitu suatu bentuk teks yang didalamnya menggambarkan dan mengungkapkan ciri-ciri orang, benda, hewan dan tempat. Selain mempelajari hal-hal seperti tersebut diatas, para siswa juga akan mempelajari unsur kebahasaan yang terdapat dalam materi teks Deskriptive, antara lain: simple present tense, noun/noun phrase, adjective, relating verbs, action verbs dan adverbial.

Saco (2006:62), mengemukakan bahwa TGT adalah pembelajaran dimana siswa memainkan berbagai bentuk permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Dalam penerapan model pembelajaran TGT di dalam kelas, penulis membagi kelas dalam beberapa kelompok kecil terdiri dari 4-5 orang.

Setiap siswa dalam kelompok tersebut mempunyai nomor urut masing-masing. Jadi dalam kelompok tidak akan terjadi satu orang mempunyai dobel nomer urut. Karena nomer urut ini nanti yang akan digunakan oleh guru untuk memberikan pertanyaan dalam kegiatan games dan turnamen yang hanya akan dijawab oleh anak dengan nomer urut yang dimaksudkan.

Langkah awal yang dilakukan ialah guru membagi kelas dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang. Setelah itu masing-masing kelompok membagi nomer urut untuk tiap anggota kelompok.

Langkah kedua, guru membagikan lembaran kertas yang terdapat bacaan teks descriptif untuk dipelajari dan akan  digunakan oleh masing-masing anggota kelompok untuk menjawab kuis yang diberikan oleh guru. Langkah ketiga, guru mempersiapkan kertas-kertas kecil yang memuat pertanyaan sesuai dengan jumlah anggota dalam tiap kelompok.

Langkah keempat, guru memanggil salah satu siswa untuk mengambil satu kertas kuis. Siswa tersebut membacakan kuis yang nanti akan dijawab oleh siswa dengan nomer urut yang sesuai dengan nomer soal. Langkah terakhir, siswa dengan nomer urut yang sesuai dengan nomer soal yang dibacakan akan berlomba untuk menjawab kuis tersebut.

Penerapan metode pembelajaran dengan model TGT yang dilakukan oleh penulis kepada siswa-siswi kelas X AKL 2 di SMK Negeri 1 Pemalang ini mempunyai keunggulan. Di antarnya para siswa mampu meningkatkan persepsi bahwa pengalaman pembelajaran yang mereka peroleh sangatlah dipengaruhi oleh keaktifan individu dalam proses pembelajaran di dalam kelas, kerjasama yang baik dengan siswa yang lain.

Kekurangan yang dijumpai adalah berkaitan dengan waktu yang relatif lama untuk menerapkan metode Teams Games Tournament ini. Akan tetapi untuk kendala waktu yang dibutuhkan sebenarnya dapat disiasati oleh guru masing-masing untuk dapat melakukan pembelajaran model TGT secara berkelanjutan. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved