Berita Jateng
Masuk Musim Penghujan, Dinkes Jateng Minta Warga Antisipasi Penyakit Ini
Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah periode Januari-September 2021, telah terdapat 2.170 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jawa Tengah
Penulis: m zaenal arifin | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Memasuki musim penghujan ini, masyarakat diminta untuk mewaspadai penyakit yang muncul saat musim penghujan, di antaranya demam berdarah.
Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah periode Januari-September 2021, telah terdapat 2.170 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jawa Tengah, dengan kematian mencapai 56 orang.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Jawa Tengah, Irma Makiah mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinkes di 35 kabupaten/kota.
Koordinasi itu untuk memantapkan strategi pengendalian penyakit utamanya penyakit tular vektor dan zoonosis atau penyakit yang dibawa oleh hewan.
Penyakit ini termasuk yang rentan terjadi saat pancaroba.
"Pergantian musim ini memang harus diwaspadai, utamanya demam berdarah. Karena itu, masyarakat diimbau mengantisipasinya," katanya, dalam keterangannya, Selasa (23/11/2021).
Diperlukan kesiapsiagaan logistik baik dari provinsi maupun dari kabupaten atau kota. Selain itu, katanya, juga diperlukan pemberdayaan masyarakat untuk ikut menanggulangi vektor nyamuk atau tikus.
"Lalu, untuk kader juru pemantau jentik (Jumantik) termasuk di tingkat sekolah, karena PTM sudah mulai berjalan. Itu perlu koordinasi lintas sektor," ucapnya.
Ditambahkannya, untuk mencegah penyakit DBD, warga disarankan melakukan pola hidup sehat dan melakukan aktivitas 3 M yaitu menguras, menutup tampungan air, dan mengubur barang yang berpotensi menampung air.
"Jika menemukan gejala demam dengue, misalnya demam, mual, pusing, nyeri perut, kami minta warga segera memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat.
"Terkait adanya pihak yang menyelenggarakan fogging mandiri, sebaiknya tetap berkoordinasi melalui Puskesmas setempat," imbaunya.
Tak hanya DBD, Irma juga meminta warga mewaspadai penyakit Leptospirosis saat intensitas hujan meningkat.
Sebab, hingga September sudah ada 184 kasus dengan kematian mencapai 35 kasus.
Di Jateng ada 21 kabupaten dan kota yang mencatatkan kasus ini.
Masa inkubasi penyakit itu cukup singkat. Jika terpapar, dalam kurun 7-10 hari penyakit bisa mengalami perburukan jika tidak diobati.
Oleh karenanya, warga disarankan segera melapor ke Puskesmas jika ada kasus terjadi di lingkungan tinggal.
"Leptospirosis ini terjadi jika orang kontak dengan cairan, atau kotoran dari hewan pembawa bakteri Leptospira salah satunya tikus.
"Kalau terkena mukosa atau luka bisa tertular. Jika terlambat penanganan bisa terjadi gagal ginjal, dan menyebabkan kematian," pungkasnya. (Nal)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-sakit_20161011_203802.jpg)