WAWANCARA
WAWANCARA : Makna Unik di Balik Nama Bhirawa Braja Paksa Adik Panglima TNI
Jumat (19/11) kemarin, seperti biasa Komisaris Besar Polisi Bhirawa Braja Paksa, adik dari Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, mengawali rutinitas
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Jumat (19/11) kemarin, seperti biasa Komisaris Besar Polisi Bhirawa Braja Paksa, adik dari Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, mengawali rutinitasnya berolahraga kardio.
"Saya biasanya treadmil sejam. Saya juga biasanya basket sama anak-anak saya dan saudara-saudara kandung. Kan dulu kita di Kampung Berlan, Matraman, rumah dinas bapak saya itu ada lapangan basket.
Olahraga itu untuk supaya tinggi, supaya membentuk fisik," ujar Bhirawa, saat diwawancarai khusus Tribunnetwork, Jumat (19/11).
"Mas Andika itu basket, softball dan karate. Mas Andika banyak berolahraga, waktu Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu softball, basket dan karate semua ditekuni, makanya badannya kuat. Kalau kita basket saja," imbuh pria kelahiran Jakarta, 6 Agustus 1974 tersebut.
Pria yang kerap menghabiskan waktu bersama keluarga setiap tak dinas ini memaparkan pula arti dari namanya yang terbilang unik.
Nama dirinya Bhirawa Braja Paksa dan nama sang kakak Andika Perkasa ternyata berasal dari bahasa Sansekerta atau Jawa Kuno.
Sang ayah yang merupakan pensiun ABRI bernama Kolonel Czi (Purn) FX Soenarto adalah orang yang menyematkan nama tersebut.
Andika disebutnya memiliki arti 'kamu', Perkasa tetap berarti 'perkasa'. Sehingga nama sang kakak memiliki arti secara keseluruhan 'Kamu Perkasa'.
Sementara Bhirawa berarti 'pasukan', Braja berarti 'besi baja', dan Paksa berarti 'dorongan'.
"Dulu saya juga nanya ke ayah saya, namanya kok berat banget gitu. Waktu kecil bertanya-tanya apa nih Bhirawa.
Menurut ayah saya secara keseluruhan ya pasukan yang mendorong sekuat tenaga dengan usaha dan mental baja. Arti secara harafiahnya itu," ucapnya.
Memiliki fisik yang kuat, tak berarti lepas dari ancaman Covid-19. Bhirawa tak menyangka pula dirinya bakal terpapar virus yang berasal dari Wuhan, China tersebut.
Dengan wajah yang sedikit mengernyit, Bhirawa menceritakan pengalamannya terpapar Covid-19 pada awal Januari 2020 lalu. Saking membutuhkan pertolongan, dia harus dirawat di RSPAD Gatot Subroto dua minggu lamanya.
"Dua minggu di RSPAD. Dirawat disana dua minggu, parah. Saya bukan sesak nafas, paru-paru saya nggak kenapa-kenapa, tapi saya ternyata ada sinus.
Sinus dan virus ini kan menyerang area yang sama, jadi dia menggumpal disitu. Dahak itu jadi menyumbat pernapasan," ceritanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bhirawa-braja.jpg)