Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Cerita Rakyat

Legenda Banyubiru Cerita Rakyat dari Pasuruan

cerita rakyat legenda Banyubiru asal Pasuruan.Para pedagang yang banyak datang dari Semenanjung Arab banyak menimbulkan perubahan dan peradaban baru

Penulis: Puspita Dewi | Editor: abduh imanulhaq
wikipedia
Legenda Banyubiru Cerita Rakyat dari Pasuruan 

Bahkan disela-sela ranting yang berada di dasar kolam tampak dua ekor ikan sengkaring sedang asyik berenang kian kemari. Menurut yang empunya cerita kedua ekor ikan itu lambat laun berkembang biak hingga sekarang.

Pengunjung pemandian yang kebetulan datang dapat menyaksikan ikan-ikan itu, jumlahnya telah berlipat ganda dan berenang kian kemari seolah-olah berlomba dengan para pengunjung pemandian yang sedang mandi.

Dari jernihnya air dasar pasir kelihatan sehingga airnya kelihatan biru.

Dengan ditemukannya kolam ajaib itu maka penduduk Jambean banyak datang menyaksikannya.

Sejak itu penduduk memeliharanya dengan baik.

Tiap hari orang-orang mandi di kolam itu dan kolam tersebut dinamakan banyubiru.

Kabar tentang ditemukannya kolam aneh itu sempat terdengar oleh Bupati Pasuruan yang bernama Raden Adipati Nitiningrat. Bersama-sama seorang pembesar Belanda yang bernama P.W.HOPLAN (Sesuai dengan prasasti yang tertulis dengan huruf jawa) kedua orang itu ikut pula menyaksikannya.

Kolam itu kemudian dibangun oleh Pemerintah Belanda dengan nama telaga wilis.

Telaga ini dibangun terus oleh orang-orang Belanda dijadikan pemandian umum. Untuk memperindah pemandian ini dibuat taman-taman bunga dan dilengkapi dengan berjenis-jenis patung yang diambil dari Singosari.

Selain memelihara kerbau Tombro juga memelihara kera. Setelah wafat pak Tombro dimakamkan didekat pemandian dan kera-kera itu berkembang biak hingga beratus-ratus ekor.

Pada waktu pendudukan jepang kera-kera itu habis ditembaki dan sisanya menyingkir ke hutan di dekat desa Umbulan yang terkenal dengan sumber air minumnya.

Sedangkan cerita pak Kebut tidak banyak dibicarakan  orang  karena  dia hanya menekuni pekerjaannya sebagai pembuat alat pertanian.

Dia dimakamkan berjajar dengan makam istrinya yang bernama mbok Kainah. Dipinggir kolam renang kolam renang lama disebelah utara tiap hari jum’at orang-orang Tosari banyak berziarah ke makam tersebut.

Menurut yang empunya cerita setiap ada orang yang berusaha memindahkan paron yang berada di dekat makamnya maka keesokan harinya paron itu akan kembali lagi ke tempat asalnya.

Kira-kira pada tahun 1980 patung-patung yang banyak bersejarah di taman-taman pemandian itu dikumpulkan disatu tempat dan dilindungi oleh seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved