Berita Semarang
Rumpin Bangjo Semarang, Selamatkan Anak Rentan agar Tak Turun ke Jalan
Riuh tawa riang belasan anak di sudut kawasan Kota Lama Semarang menghiasi sore itu.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Riuh tawa riang belasan anak di sudut kawasan Kota Lama Semarang menghiasi sore itu.
Mereka tampak antusias saat be
lajar bersama dengan para relawan Rumpin Bangjo atau Rumah Pintar Abang Ijo.
Mata anak-anak berbinar, tanda asyik mengikuti kegiatan itu.
Apalagi di tengah pembelajaran, para relawan menyelingi dengan membagikan jajanan kepada anak-anak.
Begitulah sepenggal cerita saat bertemu dengan para anak rentan Semarang yang disampaikan Koordinator Rumpin Bangjo, Annisa Dewi Fortuna.
"Iya, kami memiliki agenda seminggu sekali bertemu dengan anak rentan di sekitar kawasan Kota Lama," paparnya saat dihubungi Tribunjateng.com, Selasa (21/12/2021).
Rumpin Bangjo adalah lembaga sosial yang berdiri sejak 2010 yang berfokus menangani anak rentan dan anak jalanan di Kota Semarang.
Sasaran lembaga tersebut terkait pendidikan dan kesehatan para anak.
Sudah ada 113 anak rentan yang mendapatkan pendampingan dari Rumpin Bangjo.
Ratusan anak rentan itu berada di sekitar Pasar Johar, Kota Lama, dan Pondok Boro Genuk.
"Paling banyak di Pondok Boro sebanyak 60 anak, lalu di Pasar Johar 35 anak," jelas Annisa.
Ia menyebut, anak rentan yang dimaksud adalah anak yang rentan turun ke jalan akibat kondisi ekonomi keluarganya.
Dari ratusan anak tersebut kini tinggal 10 anak yang berstatus anak jalanan yang tidak bersekolah.
"Ratusan anak di bawah binaan kami, mayoritas mereka berusia 5 sampai 12 tahun atau setingkat TK dan SD," ucapnya.
Menurut Annisa, Rumpin Bangjo memiliki dua program yakni kelompok belajar dan Outreach.
kelompok belajar meliputi pendidikan alternatif dan Pendidikan formal.
Pendidikan formal diberikan kepada anak yang memiliki identitas dan kemauan belajar akan disekolahkan.
Sedangkan pendidikan alternatif diberikan oleh relawan yang biasanya dilakukan sekali dalam seminggu.
Kegiatan itu sudah terjadwal yakni dilakukan tiap Selasa dan Kamis.
"Kami tiap hari Selasa mengajar anak-anak di Pondok Boro, Kamis pindah di kawasan Kota Lama," katanya.
Relawan Rumpi Bangjo dalam memberikan pembelajaran kepada para anak telah menyusun Silabus selama satu bulan sekali.
Silabus meliputi sejarah, pendidikan akhlak, kreasi tangan, belajar menghitung, kesehatan reproduksi (kespro) seperti pubertas, pacaran yang berisiko dan lainnya.
"Iya silabus kami susun sedemikian rupa yang mencakup kebutuhan pembelajaran anak," terangnya.
Dikatakan Annisa, jumlah anak bimbingan rumpin saat ini sudah jarang sekali turun ke jalan.
Sebab, orangtua anak juga mulai sadar pentingnya pendidikan bagi anak mereka.
Perubahan tersebut juga berlangsung lama paling tidak selama 11 tahun selama pihaknya melakukan pendampingan.
"Alhamdulillah, kini para orangtua telah sadar pentingnya pendidikan bagi anak mereka," tuturnya.
Kendala Administrasi
Ia mengatakan, banyak kendala yang dihadapi dalam melakukan pendampingan terhadap anak rentan.
Di antaranya kendala identitas sebagai syarat dalam mengakses pendidikan dan kesehatan.
Banyak anak terpaksa tidak bisa bersekolah lantaran terbentuk identitas kependudukan.
Akan tetapi pihaknya terus berupaya dengan membantu para anak rentan untuk memperoleh hak identitasnya.
"Kami baru saja mengurus 30 anak rentan memperoleh identitas akte. Tahun depan kami bisa memasukan mereka ke sekolah dengan lebih mudah," jelasnya.
Ia mengaku, sebenarnya ada sekolah swasta yang tetap mau menerima anak rentan untuk bersekolah.
Hanya saja mereka tetap meminta para anak harus mendapatkan kartu identitas terutama ketika menjelang kelulusan.
"Alhamdulillah semua anak yang kami dampingi semua sudah memiliki kartu identitas," ucapnya.
Ia menyebut, kendala lainnya berupa sumber daya relawan.
Para relawan yang bergabung di Rumpin Bangjo mayoritas domisilinya jauh dari tempat mengajar.
"Saya sendiri dari Kabupaten Kendal. Ada teman relawan lain dari Gunungpati, mereka mahasiswa harus turun jauh ke tempat mengajar," bebernya.
Selain itu, mereka harus merogoh kantong pribadi untuk memenuhi alat pendukung belajar seperti alat tulis.
Tak hanya itu, para relawan seringkali membawa jajanan yang disukai anak-anak agar rajin belajar.
"Sebenarnya kami tidak mau selalu membelikan jajan ke anak-anak agar mereka tidak ketergantungan. Tapi kami tidak tega, meski kami tidak ada dana operasional pembelajaran kami tetap mengupayakan," paparnya.
Kendati menghadapi berbagai tantangan dalam mengajar, para relawan Rumpin Bangjo mengaku, selalu ada pelecut semangat bagi mereka. Terutama cerita para anak rentan yang mereka bina.
Seperti ada seorang bocah laki-laki berusia 7 tahun yang tetap bersemangat belajar meski kondisi keluarganya banyak sekali persoalan.
Ayahnya mengalami sakit komplikasi sehingga tak bisa bekerja . Otomatis tulang punggung keluarga tersebut berada di pundak ibunya yang hanya pekerja pengelupas bawang di sebuah pasar di Semarang.
Anak itu sempat tak bersekolah di sebuah SD swasta selama satu tahun karena tak kuat membayar. Selepas itu, Rumpin Bangjo memindahkan anak itu ke sekolah negeri yang gratis.
Sebelum ayahnya jatuh sakit dan tak bisa beraktivitas sama sekali, anak itu setiap bersekolah selalu di antar ayahnya.
Namun selepas ayahnya tak bisa mengantar, anak itu dengan tegar mau tetap bersekolah.
"Bagi saya itu contoh yang baik bagi anak-anak lain. Anak itu tak menyepelekan pendidikan. Bagi kami melihat semangat anak-anak belajar Begitu sudah sangat membahagiakan," jelasnya.
Belajar saat Pandemi
Di awal masa pandemi Covid-19, para relawan terpaksa menghentikan program belajar bersama dengan anak rentan.
Sebaliknya mereka cenderung lebih memikirkan keluarga anak rentan sebab orangtua mereka semakin terdesak ekonominya.
Apalagi mayoritas mereka adalah pekerja kasar di pasar yang mana saat awal pandemi pasar sangat sepi.
"Kami mau melakukan pembelajaran daring tapi mereka tak punya handphone maka kami lebih memilih memberikan mereka tugas berupa pekerjaan rumah yang nantinya akan kami periksa di temuan berikutnya," tegas Annisa.
Di sisi lain, ia menilai, pemerintah kota Semarang sudah memberikan akses yang bagus terhadap para anak rentan di Kota Semarang.
Masih adanya anak rentan yang belum bersekolah biasanya karena orangtua tak mengetahui akses pendidikan bagi anak mereka secara gratis.
"Kebanyakan orangtua seperti itu berasal dari warga pendatang yang migrasi ke Kota Semarang jadi mereka belum tahu mengakses pendidikan bagi anak mereka," tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/relawan-rumpin-bangjo-belajar.jpg)