Berita Semarang

Jelang Nataru, BBPOM di Semarang Temukan 107 Kemasan Produk Tak Penuhi Ketentuan

Menjelang Natal 2021 dan Tahun Baru 2022, BBPOM di Semarang melakukan intensifikasi pangan selama lima tahap mulai 1 Desember 2021-7 Januari 2022.

Penulis: Eka Yulianti Fajlin | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI FAJLIN
BBPOM di Semarang menggelar jumpa pers terkait intensifikasi pangan menjelang Nataru, Jumat (24/12/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menjelang Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru), BBPOM di Semarang melakukan intensifikasi pangan selama lima tahap mulai 1 Desember 2021 - 7 Januari 2022.

Intensifikasi pengawasan untuk memastikan produk pangan olahan yang beredar di masyarakat bermutu dan aman dikonsumsi. 

Kepala BBPOM di Semarang, Sandra M P Linthin mengatakan, prioritas intensifikasi yaitu pada bagian hulu rantai distribusi pangan olahan, misalnya importir, distributor, hypermarket, supermarket, toko, penjual parcel, serta pasar tradisional di Jawa Tengah.

Target iensifikasi pangan olahan meliputi pangan tanpa izin edar, kedaluwarsa, dan rusak. 

Baca juga: Keringat Sudah Diperas, Atlet Persiku Kudus Belum Terima Gaji, KONI Anggap Belum Mendesak

Baca juga: Inilah Sosok Prajurit TNI Diduga Penabrak Sejoli Nagreg Mayat Dibuang di Banyumas

"Pengawasan intensifikasi pangan pada Nataru ini telah sampai pada tahap 3. Beberapa kabupaten telah dilakukan pengawasan antara lain Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Wonosobo, Pati, Kudus, Pemalang, Brebes, Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Jepara, Temanggung, Pekalongan, Boyolali, Kabupaten Tegal, Kota Tegal, dan Purworejo," sebut Sandra, Jumat (24/12/2021).  

Sandra melanjutkan, intensifikasi pengawasan hingga tahap 3 ini telah dilakukan pada 58 sarana terdiri dari distributor, swalayan, toko, dan pasar tradisional.

Hasilnya, 47 sarana memenuhi ketentuan dan 11 sarana tidak memenuhi ketentuan.

Dari jumlah yang tidak memenuhi ketentuan, 6 diantaranya menjual produk rusak, 2 sarana menjual produk kedaluwarsa, dan 3 lainnya tanpa izin edar. 

Adapun temuan produk pangan olahan yang tidak memenuhi ketentuan sebanyak 15 item terdiri dari 107 kemasan, dengan rincian 9 item kemasan rusak, 3 item kedaluwarsa ada 19 kemasan, dan 3 item tanpa izin edar terdiri dari 55 kemasan. 

Dia merinci, temuan produk tidak memenuhi ketentuan karena rusak meliputi coklat batangan dan minuman serbuk.

Ada pula yang mengalami kerusakan kemasan yaitu krimer kental manis, susu kaleng, dan sarden. Jenis produk tanpa izin edar meliputi AMDK, BTP, dan permen impor. 

Temuan produk kedaluwarsa yaitu creamer kaleng dan susu bubuk. 

"Sarana yang tidak memenuhi syarat, kami lakukan pembinaan di tempat dan menandatangani surat pernyataan. Produk yang tanpa izin edar dan kedaluwarsa, kami musnahkan. Sedangkan produk rusak dikembalikan ke distributor," jelasnya. 

Baca juga: Hendi Resmikan Sport Center di Tengah Rusunawa

Baca juga: Turut Kurangi Mobilitas Warga pada Libur Natal, Bus Trans Semarang Tak Beroperasi

Menurutnya, intensifikasi pangan Nataru tahun ini menunjukan peningkatan kualitas sarana  dibanding 2020 yang mana pada tahun lalu hanya 24 sarana.

Dari sisi temuan produk yang tidak memenuho ketentuan juga menurun dari tahun lalu 54,2 persen menjadi 18,9 persen. 

"Ini mengindikasikan meningkatnya kesadaran pelaku usaha retail pangan dalam pemenuhan ketentuan cara yang baik," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved