Kamis, 23 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Cilacap

Penuhi Kualitas Selera Dunia, Kampung Sidat Kaliwungu Cilacap Jadi Percontohan Nasional

Bermula dari kolam budidaya skala kecil, ikan sidat di Desa Kaliwungu, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap, dikirim ke pasar luar negeri

Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG/PERMATA PUTRA SEJATI
Petani atau pembudidaya ikan sidat di Kampung Sidat Desa Kaliwungu, Kecamatan Kedungreja, Cilacap saat memanen ikan sidat, Kamis (23/12/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Bermula dari kolam budidaya skala kecil di Desa Kaliwungu, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap, ikan sidat kualitas nomor satu dikirimkan memenuhi selera dunia.

Pesanan dari restoran semakin banyak, kini ikan sidat yang dikenal juga dengan nama ikan katadromus diolah dalam bentuk Unagi Kabayaki.

Bahkan ada juga yang untuk memenuhi jaringan sushi ternama. 

Di Jepang memiliki hari khusus setiap musim panas, Doyo no Ushi no Hi, hari saat warga Jepang menikmati sidat panggang yang dipercaya meningkatkan kondisi tubuh di tengah cuaca terik. 

Namun demikian, International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah mengkategorikan sidat Jepang (Anguilla japonica) dalam the Red List of Threatened Species. 

Baca juga: 8 Drama di Semifinal Indonesia Vs Singapura, Gol Penyelamat Arhan hingga Asnawi Sujud di Depan Lawan

Baca juga: Kartu Debit Jenis Lama Diblokir, Begini Cara Tarik Saldo BCA Tanpa Kartu ATM

Baca juga: Misteri Kematian Pencuri Tanaman Hias Setelah Diamankan Polisi, Keluarga Lihat Garis Hitam di Leher

Sekitar 70 persen konsumsi sidat dunia ada di Jepang.

Hal itulah yang mendorong mereka mencari suplai sidat dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. 

Hal itulah yang memotivasi Pelopor Koperasi Mina Sidat Bersatu, Ruddy Sutomo, mengembangkan gagasan Kampung Sidat. 

"Teman saya dari Jepang bertanya apakah ada Unagi di kampung halaman. 

Istilah itu begitu asing bagi saya, tetapi begitu melihat fotonya ternyata itu sejenis olahan dari ikan Sidat yang banyak di kampung saya di Cilacap," katanya kepada Tribunjateng.com, Kamis (23/12/2021). 

Plt Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, Pamuji Lestari saat bersama Tim KKP dan Kepala Perwakilan Food and Agriculture Organization (FAO) untuk Indonesia dan Timor Leste Rajendra Aryal melihat panen ikan sidat di Kampung Sidat Kaliwungu, Cilacap, Kamis (23/12/2021).
Plt Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, Pamuji Lestari saat bersama Tim KKP dan Kepala Perwakilan Food and Agriculture Organization (FAO) untuk Indonesia dan Timor Leste Rajendra Aryal melihat panen ikan sidat di Kampung Sidat Kaliwungu, Cilacap, Kamis (23/12/2021). (TRIBUN JATENG/PERMATA PUTRA SEJATI)

Dia yang mulanya bekerja sebagai pengusaha rental mobil di Cikarang mencoba beralih menjadi pembudidaya sidat melihat begitu besar potensinya. 

Awal 2017, ia membuat kolam sidat dengan ukuran kecil dan usahanya kala itu gagal karena kurangnya pengetahuan tentang cara membudidayakan sidat.  

Pada 2018, ia mendapat pelatihan dari salah satu Profesor di Jepang terkait membudidayakan sidat sekaligus mendapat bantuan dari program Food Agricultural Organization (FAO) melalui proyek IFish. 

IFish merupakan proyek FAO bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI. 

Tujuannya adalah pengarusutamaan nilai-nilai konservasi keanekaragaman hayati perairan darat.

Selain itu, sebagai bentuk pemanfaatan secara berkelanjutan di ekosistem perairan darat yang bernilai konservasi tinggi, salah satu contohnya adalah ikan sidat

Koperasi Mina Sidat Bersatu yang dibentuk oleh Ruddy setidaknya mengelola enam hektar kolam sidat. 

Kampung Sidat Kaliwungu adalah kawasan proyek percontohan (pilot project) disebut sejalan dengan program strategis baru Kementerian Kelautan dan Perikanan. 

Sejak diresmikan pada 22 November 2018 oleh perwakilan dari Kementerian Kelautan Perikanan, FAO Indonesia serta Pemerintah Kabupaten Cilacap setidaknya dalam satu bulan Kampung Sidat Kaliwungu bisa menghasilkan 1 sampai 2 ton. 

Adapun penghasilan perbulan dirata-rata bisa mencapai Rp 400 juta-600 juta. 

Ia mengakui banyaknya pesanan dari luar negeri membuatnya tidak dapat memenuhi seluruh permintaan ekspor. 

"Saat ini pemenuhan untuk ke lokal khususnya restoran Jepang.

Kalau ekspor biasanya harus skala besar. 

Untuk saat ini porsinya 75 persen lokal dan 25 persen Ekspor," katanya. 

Pihaknya mengungkapkan dapat mengekspor sesuai dengan kapasitas produksi yang dia sanggupi saja dan saat ini masih memenuhi khusus pasar Jepang. 

Dengan adanya Kampung Sidat dan Koperasi Mina Sidat Bersatu ini mampu memberdayakan setidaknya 20-30 orang ikut berpartisipasi dalam kegiatan budidaya. 

Ruddy menargetkan, mengingat pandemi saat ini mulai berangsur pula ekspor 2022 ditarget bisa mencapai 10 ton perbulan. 

Ia menceritakan Sidat yang dibudidayakan di Kampung Sidat Kaliwungu adalah jenis Anguilla bicolor. 

Rasa dan tekstur sidat jenis Anguilla bicolor dari Indonesia menjadi favorit pasar Jepang. 

Bila diolah dengan sedikit bumbu, rasanya jauh lebih enak dibandingkan produk beku sidat yang tersedia di supermarket. 

Kulit sidatnya tipis, dagingnya tebal dan empuk serta tidak berbau lumpur sama sekali. 

Tidak heran sidat produksi Koperasi Mina Sidat Bersatu disambut baik oleh masyarakat Jepang.

Pihaknya juga sudah mengurus izin BPOM dan sertifikasi halal. 

Produk yang dihasilkan tidak lagi hanya sidat hidup, tapi juga sudah olahan dengan memberdayakan ibu-ibu warga setempat. 

Sidat olahan yang dibuat yaitu dalam bentuk Unagi Kabayaki yang rasanya bisa disesuaikan dengan permintaan restoran.

Ruddy juga bercerita tentang proses  penjualan produk Koperasi Mina Sidat  Bersatu di jaringan ritel. 

Sudah ada pesanan rutin dari restoran, kegiatan operasional budi daya sudah membaik dibandingkan di masa awal Covid-19. 

Berbeda dengan ikan air tawar umumnya, sidat berkualitas tidak bisa hanya memakan daun dan lumut. 

Mereka harus diberi pakan pelet agar dagingnya empuk dan enak.

Membudidayakan ikan sidat bukanlah perkara mudah, ada beberapa tahapan penting yang harus dilalui. 

Karena sidat belum bisa dipijahkan, maka Ruddy membuat kolam khusus pembesaran. 

Kurang lebih ada 53 kolam dengan ukuran 2 meter kali 2 meter khusus pembibitan yang kurang lebih diisi ikan berumur 1-2 bulan. 

Dalam satu kolam itu bisa berisi 3.000 ekor bibit ikan sidat

"Umur 1-2 bulan inilah yang disebut masa kritis maka dari itu kita pisah dulu. 

Biasanya pada minggu ke 7, ada serangan penyakit. 

Baru setelah 2 bulan kita pindahkan ke kolam yang lebih besar," terangnya. 

Kampung Sidat di Cilacap ini adalah pilot project kampung ikan berbasiskan kearifan lokal. 

Tidak hanya dari FAO dan pemerintah daerah, kegiatan percontohan ini mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai direktorat di KKP.

Dalam mencapai tujuannya, proyek yang dimulai sejak 2017 ini melaksanakan tiga strategi utama. 

Pertama pengarusutamaan prinsip keanekaragaman hayati perairan darat dalam pembangunan sumber daya dan kebijakan pengelolaan.

Kedua, demonstrasi prinsip konservasi dan pemanfaatan secara berkelanjutan di sejumlah habitat kritis di Indonesia.

Ketiga, serta pemantauan dan penilaian yang efektif. 

Proyek IFish disebut sebagai proyek perikanan darat terbesar di Indonesia. 

Oleh karena itu perlindungan ekosistem dan pengelolaan perikanan darat secara berkelanjutan berdampak besar dalam peningkatan ketahanan pangan. 

Terutama dalam pemenuhan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada keanekaragaman hayati perairan darat.

Plt Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, Pamuji Lestari mengatakan sangat mendukung proyek Kampung Sidat Kaliwungu. 

"Sidat ini menjadi unggulan, harapannya nanti di Indonesia banyak terbentuk kampung-kampung yang secara spesifik punya keunggulan dalam bidang Perikanan. 

Oleh karena itu kita dukung dalam permodalan di KKP ada bantuan dengan kredit murah hanya 3 persen, tetapi tetap ada syarat dan kualifikasi," ungkapnya. 

Pihaknya menambahkan nantinya akan ada pendampingan dari profesional supaya ada upaya pembudidayaan berbasis science. 

Pendapat yang hampir sama disampaikan pula, Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal juga yang memberikan apresiasi atas keberhasilan Cilacap dalam mengembangkan budidaya sidat.

"Satu kampung, satu ikan atau satu jenis ikan yang dibudidayakan.

Ini sangat bagus sekali," ungkapnya. 

Selama masa pandemi Covid-19 ini usaha sidat pun terkena imbasnya karena adanya pemberhentian ekspor dari Jepang. 

Pandemi Covid-19 menghantam usaha koperasi tersebut. 

Selama Pandemi Koperasi Mina Sidat Bersatu kehilangan setidaknya potensi 65 persen pesanan sidat karena penutupan ekspor ke Jepang. 

Lima bulan pertama saat pandemi menjadi ujian terberat karena tidak ada pemasukkan sama sekali. 

Suplai sidat ke restoran dan ekspor semuanya berhenti.

Penerapan pembatasan mobilitas penduduk termasuk penutupan pusat perbelanjaan dan hotel membuat bisnis restoran sepi.

Kondisi tersebut memaksa anggota koperasi memutar otak karena kegiatan budi daya di kolam tidak bisa berhenti. 

Salah satu cara antisipasinya adalah menakar dengan tepat jumlah pakan yang diberikan. 

Bila terlalu banyak pakan, maka ukuran sidat akan melebihi ukuran pasar Jepang. 

Tentu saja penyesuaian dilakukan, tapi kualitas tidak boleh kompromi. 

Menjelang akhir 2021 ini geliat kampung sidat kembali bangkit. 

Karena sudah ada pesanan rutin dari restoran, kegiatan operasional budi daya sudah membaik dibandingkan di masa awal Covid-19. 

Bertahan di masa pandemi tanpa mengorbankan kualitas adalah sebuah keharusan. 

Para warga mulai membuat beberapa produk turunan, seperti abon, bakso dan keripik tulang sidat. 

Sejumlah komunikasi dengan pihak Jepang telah dilakukan dan diharapkan pengiriman ke Jepang bisa kembali normal. 

Baca juga: Video Bupati Blora Nazar Sembelih Sapi Jika Pratama Arhan dkk Menang Piala AFF 2020

Baca juga: Bupati Kendal Minta Satgas Penanganan Covid-19 Perketat Aktivitas Masyarakat di Momen Nataru

Contohnya sejak Agustus 2020 restoran berkategori Michelin Star di Jakarta memesan sidat secara rutin. 

Dalam sebulan bisa mengirimkan 800-1.200 kilogram sidat. 

Sidat hidup bisa dilihat di kolam penampungan di dalam restoran.   

Kegigihan Koperasi Mina Sidat Bersatu selama masa pandemi, menjadikan mereka satu dari sedikit usaha budidaya sidat yang  bertahan. (*) 

 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved