Berita Kabupaten Semarang

Kisah Penjual Kerupuk Keliling Penderita Polio Semarang: Uang Hasil Jualan Buat Biaya Berobat Ibu

Sambil memikul karung berisi kerupuk terung ikan,Teguh Priadi (22) berjalan kaki berkeliling desa untuk menjajakan barang dagangan keliling.

Penulis: hermawan Endra | Editor: moh anhar

TRIBUJATENG.COM, UNGARAN - Sambil memikul karung berisi kerupuk terung ikan,Teguh Priadi (22) berjalan kaki berkeliling desa untuk menjajakan barang dagangan yang dibawa di sekitaran Kelurahan Kalongan, Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin (17/1). 

Gerak tubuhnya nampak tidak bisa leluasa akibat penyakit polio yang ia derita sejak lahir. Saat berjalan, warga Dusun Danpo RT02/RW01, Desa Kalongan, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang itu kerepotan, begitupun ketika mengambil barang atau bertransaksi menggunakan tangan. 

Pria kelahiran Kabupaten Semarang, 17 Mei 2000 tersebut mengaku, meski menyadari bahwa dirinya mengalami keterbatasan gerak, namun hal tersebut tidak menjadi halangan baginya untuk bekerja mencari penghasllan. 

Baca juga: Kejam, Khanifah Lukai Leher Istrinya di Kos Semarang Berkali-kali karena Diminta untuk Kerja

Baca juga: Beredar Isu Terima Gratifikasi Mobil Pajero Sport 2012, Camat Undaan Kudus Bantah Keras

Terhitung sudah satu tahun ini ia berjualan kerupuk terung ikan. Jam operasionalnya mulai 06.30 hingga 10.30.

Dalam sehari ia membawa 40 bungkus kerupuk yang dimasukan ke dalam karung transparan. 

Karung yang jika terisi penuh mencapai berat sekitar tiga kilogram tersebut dipikul sepanjang perjalanan. Untuk satu bungkus berisi 15 kerupuk dijual seharga Rp5 ribu. 

"Setiap seminggu sekali tetangga saya kulakan kerupuk dari pabriknya di Klaten. Kemudian saya yang bertugas memasarkannya di desa-desa jalan kaki," imbuh lulusan SMK Kanisius Ungaran jurusan administrasi perkantoran itu.  
 Selama empat jam berjualan, rute yang dilaluinya lebih dari 10 kilometer dimulai dari perumahan Puri Delta Asri 5, Kelurahan Kalongan dan berakhir di daerah Kalirejo. 

"Ketika berjualan dari rumah saya diantar ke Perumahan Puri Delta Asri menggunakan sepeda motor. Kemudian pulangnya jalan kaki sambil berjualan," kata Teguh, sapaan akrabnhya.

Setiap satu bungkus kerupuk yang berhasil dijual ia mendapatkan Rp1.000. Pendapatn tersebut diakumulasikan selama satu minggu sebagai upah. Tiap pekannya ia rata-rata mendapatkan upah Rp500 ribuan. 

Anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Karmani dan Prianti ini mengaku selain ditabung, penghasilan yang ia dapat juga digunakan untuk biaya berobat ibu yang sedang mengalami sakit tumor pada bagian tangan.

Teguh mengaku memutuskan menjadi penjual kerupuk keliling untuk mengisi waktu luang setelah setahun lebih menganggur usai lulus SMK.

Ia mengaku pernah melamar pekerjaan di kantoran atau pabrik namun sampai sekarang belum ada yang bersedia menerimanya.

Selain itu pertimbangan lainnya karena dilarang oleh orang tua karena alasan tidak ada yang bisa mengantar temput. 

"Tidak boleh sama orang tua karena tidak ada yang jemput. Julan kerupuk sudah setahun lebih awalnya ditawari saudara yang masih tetangga. Dari pada nganggur saya terima tawaran itu," kata pemilik akun instagram @priyadit48

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved