Berita Kudus
Pijar Park Kudus Buktikan Pengembangan Wisata Desa Bisa Berhasil Dikembangkan
Pemerintah Kabupaten Kudus komitmen mendukung ekonomi kerakyatan melalui sektor pariwisata yang dikembangkan di desa-desa.
Penulis: Rifqi Gozali | Editor: moh anhar
TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Pemerintah Kabupaten Kudus komitmen mendukung ekonomi kerakyatan melalui sektor pariwisata yang dikembangkan di desa-desa.
Menurut Direktur Pijar Park Kudus, Yusuf, mengatakan, dari dukungan tersebut akan muncul destinasi wisata di desa yang imbasnya kesejahteraan masyarakat sekitar.
Yusuf mengatakan, saat ini pihaknya sebagai pengelola Wana Wisata Pijar Park di Desa Kajar, Kecamatan Dawe menilai peran pemerintah dalam mendukung pengembangan wisata telah dilakukan.
Namun, dia berharap tidak hanya berhenti di situ.
Baca juga: Emak-emak Serbu Minimarket Beli Minyak Goreng Harga Rp 14 Ribu Per Liter
Baca juga: Netizen Semarang Cibir Desain Tulisan Lapangan Pancasila di Simpanglima, Ini Fakta Asal-usulnya
Baca juga: Jadi Paket Wisata Sejarah - Cagar Budaya Semarang: Kota Lama, Museum, Lanjut Belanja Pasar Johar
Dia berharap Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) lebih meningkatkan dukungan dan dampingan kepada desa-desa yang mengembangkan wisata supaya lebih dikenal.
"Untuk Disbudpar bukan hanya di Pijar saja dukungannya, tapi juga ke yang lain agar pariwisata di Kudus lebih ditingkatkan dan dikenal," kata Yusuf.
Sebagai pengelola objek wisata, pihaknya telah merasakan dukungan pemerintah kabupaten terhadap pengembangan wisata.
Di antara dukungan yang konkret yakni beberapa bulan lalu pernah digelar festival kopi di Pijar Park, dan saat itu pemerintah mendukung penuh agenda tersebut.
"Jangan berhenti untuk mendukung pelaku wisata di desa. Agar wisata di desa maju dan UMKM maju," kata Yusuf.
Majunya pariwisata di desa, katanya, berimbas positif terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar.
Misalnya di Pijar Park, keberadaannya membantu masyarakat pelaku UMKM.
Yusuf mengatakan, di dalam kompleks Pijar Park, pihaknya juga menyediakan 25 lapak untuk pedagang kaki lima.
Lapak itu disediakan khusus untuk warga yang belum punya usaha. Dari situ, lahirlah pelaku UMKM baru yang berimbas pada kesejahteraan.
"Artinya dengan adanya Pijar Park warga yang belum punya usaha bisa jualan.
Itupun barang suplai dari kami. Memang banyak peningkatan ekonomi masyarakat," tandas dia.
Para pedagang kaki lima itu umumnya menjajakan kuliner khas lereng Muria, yaitu gethuk nyimut dan kopi Muria. Harganya pun ramah di kantong.
Kata Yusuf, setiap menu yang dijual di sana harganya di bawah Rp 10 ribu.
Keberadaan Pijar Park adalah satu di antara keberhasilan sektor pariwisata yang dikambangkan oleh masyarakat desa.
Pengelolaannya melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan bekerja sama dengan Perhutani melalui perjanjian kerja sama (PKS).
Dari situ kemudian hasil dari penjualan tiket dibagi menjadi dua, yakni 70 persen untuk LMDH dan sisanya untuk Perhutani.
"Pembagian itu dilakukan setelah dikurangi asuransi untuk pengunjung," kata dia.
Baca juga: Netizen Semarang Cibir Desain Tulisan Lapangan Pancasila di Simpanglima, Ini Fakta Asal-usulnya
Baca juga: Terus Bertambah, Korban Pesta Miras di Cepu Blora Jadi Enam Orang
Semakin pesatnya Pijar Park, dalam waktu dekat akan diluncurkan fasilitas baru berupa homestay yang berada di pohon. Yusuf menyebutnya runah pohon. Fasikitas tersebut bisa segera dinikmati pengunjung.
"Ada fasilitas TV, ada juga air panasnya. Kalau AC tidak ada, kan di sini sudah adem," kata dia.
Ke depan, Pijar pengelolaannya akan menjadi wewenang badan usaha milik desa. Keuntungan dari pengelolaannya agar bisa masuk ke dalam kas desa. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Pijar-Park-kudus-201.jpg)