Profil Ananda Sukarlan Musisi Klasik Asia Pertama yang Terdaftar di NFT
Berikut profil Ananda Sukarlan musisi klasik asia pertama yang terdaftar di NFT.
Penulis: non | Editor: abduh imanulhaq
Profil Ananda Sukarlan Musisi Klasik Asia Pertama yang Terdaftar di NFT
TRIBUNJATENG.COM - Berikut profil Ananda Sukarlan musisi klasik asia pertama yang terdaftar di NFT.
Ananda Sukarlan komposer dan pianis klasik asal Indonesia baru-baru ini menjadi musisi klasik pertama Asia yang terdaftar di NFT.
Ananda Sukarlan baru-baru ini melelang dua karya pianonya.
Yakni piano solo variasi ‘Pergi Belajar’ dari Ibu Sud dan ‘Rapsodia Nusantara Nomor 35’ sebagai NFT.
Ia melelang kedua karya ini di marketplace aset digital, Metaroid Indonesia.
Kedua NFT tersebut dibeli oleh pengusaha Edwin Soeryadjaya dan Hilmi Panigoro US$ 61 ribu atau seitar Rp 1 miliar.
Profil Ananda Sukarlan
Ananda Sukarlan adalah seorang pianis dan komponis asal Indonesia.
Dilansir oleh Kompas.com, Ananda merupakan pendiri Yayasan Musik Sastra Indonesia (YMSI)
dan pembuat musik klasik untuk anak-anak difabel di Spanyol yang bekerja sama dengan Fundacion Musica Abierta.
Kemampuan pria kelahiran 10 Juni 1986 ini dalam memainkan alat musik piano, telah ia dapatkan sejak kecil.
Kala itu kedua orangtuanya mengikutsertakan Ananda Sukarlan untuk kursus piano bersama Soetarno Soetikno dan Rudy Laban.
Seiring berjalannya waktu di tahun 1986, Ananda Sukarlan lulus SMA dan melanjutkan pendidikannya
dengan menerima tawaran beasiswa Piano Petrof dari University of Hadford, Connecticut, Amerika Serikat.
Setelah itu ia memperdalam kemampuannya bermain piano di Koninklijk Conservatorium Den Hag.
Di bawah bimbingan Naum Grubert, ia berhasil lulus dengan predikat summa cum laude di tahun 1993.
Namanya mulai dikenal dunia, ketika ia sering tampil dalam festival-festival luar negeri.
Ia juga sering mengisi sejumlah acara resmi kenegaraan di Eropa.
Bahkan, pada tahun 2000 ia pernah diundang oleh Ratu Sofia dari Spanyol untuk mengisi konser di Madrid.
Namanya dikenal di kalangan musik klasik. Ia berhasil menerima puluhan penghargaan berkat kariernya sebagai seorang pianis.
Salah satunya adalah Juara Pertama “Nadia Boulanger” – Concours International d’Orleans di Orleans, Prancis (1993).
Tidak hanya itu, Ananda Sukarlan berhasil menjadi satu-satunya orang Indonesia yang masuk ke dalam buku “The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century”,
yang berisikan riwayat hidup 2000 orang yang dianggap berdedikasi pada musik.
Kini nama Ananda Sukarlan tidak hanya terkenal di Tanah Air, tetapi anak dari pasangan Sukarlan dan Poppy Kumudastuti ini telah sukses terkenal di kalangan komposer-komposer di Eropa.
Non Fungible Token (NFT) kini tengah populer dan menjadi pembicaraan netizen.
NFT sendiri adalah adalah aset digital yang mewakili suatu objek dunia nyata.
Suatu NFT yang dijual, bakal memiliki nomor kode dan metadata unik yang tidak bisa direplikasi dan tentunya berbeda dari aset NFT lainnya.
Kode unik tersebut juga bisa melacak penerbit token, pemilik awal, dan pemilik akhir untuk karya atau barang yang sifatnya bisa dikoleksi (collectible).
Setiap NFT akan berlaku sebagai item koleksi yang tidak dapat diduplikasi sehingga menjadikannya langka.
Artinya, NFT ibarat sebuah sertifikat keaslian untuk aset virtual.
Dengan demikian, seseorang yang memiliki sebuah NFT akan memiliki sesuatu yang berharga di dunia digital.
Bisa disimpulkan bahwa NFT merupakan aset digital yang bisa dimiliki secara eksklusif oleh seseorang dengan nilai yang bervariasi tergantung orang yang menjualnya.
Beberapa waktu lalu juga heboh NFT Ghozali Everyday yang membuat pemiliknya menjadi kaya mendadak.
Ghozali yang berasal dari Indonesia tersebut menjual NFT berbentuk selfie-nya setiap hari di paltform Opensea. (tribunjateng/non)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ananda-sukarlan.jpg)