Berita Semarang
Tiga Poros Ekonomi Jateng Kata Akademisi
Anggota DPD RI Dapil Jateng Abdul Kholik menggagas tiga poros pertumbuhan ekonomi di Jateng.
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Jateng, Abdul Kholik menggagas tiga poros pertumbuhan ekonomi di Jateng.
Tiga poros kawasan ekonomi ini untuk meningkatkan konektivitas, kolaboratif berbasis kawasan dan penyederhanaan perencanaan pembangunan.
Tiga poros baru berdasarkan wilayah tersebut Jateng Utara (Semarang dan Pantura) yang merupakan kawasan megapolitan dengan industri manufaktur, Jateng Timur (Solo Raya) merupakan kawasan megapolitan dengan industri dan agropolitan, dan Jateng Selatan (Banyumas Raya dan Kedu) berbasis agropolitan.
Terkait peluang pembangunan ekonomi Solo raya sebagai kawasan megapolitan di wilayah Jateng Timur, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universita Sebelas Maret (FEB UNS) Solo, Lukman Hakim PhD menyinggung Indonesia Incorporated (Inc).
Indonesia Inc merupakan mimpi lama dalam mengembangkan industri dimana ada integrasi dari sektor pertanian ke industri dari hulu ke hilir, dari industri rumah tangga, UMKM sampai industri besar dan sedang. Di sini faktor supply chain menjadi hal yang paling utama.
"Yang paling sukses adalah Japan Inc, China Inc. Bahkan, banyak perusahaan Jepang yang beroperasi di China seperti Toyota diminta kembali ke Jepang tidak bersedia," kata Lukman Hakim.
Hal senada bisa diterapkan dengan membentuk Solo Raya Inc. Solo Raya sejak sebelum kemerdekaan menjadi pusat industri teksil dan industri gula.
Kemudian, berjalannya waktu, berkembang industri tekstil. Perusahaan besar semisal Batik Keris, Danar Hadi, Sritex, Duniatex, Tyfontex merupakan pabrik besar.
"Beberapa langkah sudah ditempuh untuk mendukung industri tekstil. Semisal pendirian jaringan bisnis, pendidikan (akademi komunitas tekstil) dan pemasaran baik internasional, regional, maupun nasional," ucapnya.
Sementara, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Dr Rahab mengatakan, daerah Jateng bagian selatan masih dibelenggu kemiskinan dan sangat timpang dengan pembangunan daerah bagian utara Jateng.
Oleh karena itu, konsep pemerataan bisa terealisasi. Jateng bagian seelatan, kata dia, lebih cocok dikembangkan agropolitan.
"Optimalisasi agropolitan bisa mengejar ketinggalan dan memeratakan pengembangan wilayah. Yang terpenting, mengurangi kesenjangan selatan dan utara," tegasnya.
Dilihat dari geografisnya, Jateng bagian selatan sangat tepat untuk pengembangan agropolitan karena terletak di kaki gunung Slamet, Sindoro, Sumbing yang memiliki tanah subur.
"Agropolitan dipilih karena mengakomodir terhadap kondisi sosial budaya masyarakat yang ada. Ini dapat mengurangi pengangguran," ucapnya.
Dosen FEB Universitas Diponegoro (Undip), Firmansyah PhD sepakat bahwa pembangunan ekonomi di Jateng berdasarkan regionalisasi.