Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Guru Berkarya

Pembentukan Karakter Siswa Melalui Kesepakatan Kelas

Terjadinya pandemi Covid-19 di Indonesia sangat berdampak pada perilaku siswa di sekolah.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Nunung Wulandari SPdSD, Guru Kelas 3 SDN 2 Pulutan Kec Nogosari Kab Boyolali 

Oleh: Nunung Wulandari SPdSD, Guru SDN 2 Pulutan Kec Nogosari Kab Boyolali

PANDEMI Covid-19 di Indonesia sangat berdampak pada perilaku siswa di sekolah. Mereka mengalami perubahan perilaku, seperti hilangnya karakter yang baik yang seharusnya mereka pegang dan laksanakan di setiap kesempatan. Hal itu sering sekali kita lihat di  sekolahan dan mengakibatkan banyaknya hal negatif yang kita jumpai pada anak didik kita. Hal itu menjadi sebuah persoalan yang harus kita carikan solusi agar pendidikan yang ada di Indonesia tidak hanya mengajar atau mentransfer pengetahuan kepada siswa.

Kita sebagai guru juga harus mampu  mendidik, membimbing dan juga mengajar kepada anak-anak, memberikan contoh karakter yang positif yang selama ini  semakin menipis bahkan hampir hilang di setiap hari. Hal itu terlihat jelas pada pelaksanaan PTM yang sudah dimulai pelaksanaannya khususnya di SD Negeri 2 Pulutan, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali

Pada pelaksanaan PTM yang sudah mulai dilaksanakan di SD Negeri 2 Pulutan  terlihat banyak sekali perilaku dari siswa yang tidak seharusnya  mereka lakukan sebagai seorang siswa, Contohnya adalah bicara kasar, tidak menghormati guru dan teman, tidak melaksanakan peraturan kelas dan lain sebagainya. Maka dari itu kita sebagai guru harus mencarikan solusi terbaik tanpa adanya suatu paksaan bagi siswa.

Dari situ kita mencoba mencari solusi agar permasalahan di atas bisa terselesaikan. Kita mencoba untuk membuat sebuah kesepakatan kelas yang idenya datang dari siswa sehingga akan membentuk sebuah budaya positif bagi siswa, dalam hal ini kita sebagai guru hanya sebagai fasilitator dalam pembuatan kesepakatan kelas tersebut, dan siswalah yang akan membuat kesepakatan bersama siswa yang lain. Jadi tidak ada suatu keterpaksaan untuk siswa dalam melaksanakan sebuah kesepakatan kelas karena mereka sendiri yang membuatnya. Kita membimbing siswa membuat kesepakatan kelas dari yang sederhana dahulu dengan jumlah yang tidak begitu banyak, kita mulai seperti, menyayangi teman, menjaga kebersihan sekolah dan juga melaksanakan kegiatan keagamaan sesuai dengan agama masing-masing.

Budaya sekolah yang positif menjadi tempat bagi para guru, murid, serta setiap lapisan komponen sekolah untuk merasakan atmosfer positif yang membangun dan memperkuat karakter. Ketika sekolah sudah memiliki budaya positif dengan menerapkan disiplin positif, guru akan bersemangat untuk bekerja, karena mereka melihat gambaran yang lebih besar dan murid berada dalam posisi yang lebih baik (secara mental dan emosional) untuk belajar. Untuk menciptakan budaya positif di sekolah, maka dimulai dari kelas.

Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu dalam pembentukan budaya disiplin positif di kelas. Hal ini juga dapat membantu proses belajar mengajar yang lebih mudah dan tidak menekan. Kesepakatan kelas berisi beberapa aturan untuk membantu guru dan murid bekerja bersama membentuk kegiatan belajar mengajar yang efektif. Kesepakatan kelas tidak hanya berisi harapan guru terhadap murid, tapi juga harapan murid terhadap pengajar. Kesepakatan disusun dan dikembangkan bersama-sama antara guru dan murid.

Nah, itu merupakan gambaran penjelasan tentang keterkaitan antara budaya positif yang ada di sekolah dengan kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang akan saya buat bersama murid-murid yaitu kesepakatan kelas yang akan kami terapkan ketika awal masuk sekolah setelah libur panjang.  (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved