Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

OPINI Udi Utomo : Tengkes dan Pangan Lokal

KASUS tengkes (stunting) di Indonesia tergolong masih tinggi. Menurut data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan menunjukkan balita

Tayang:
Bram
Udi Utomo 

Oleh Udi Utomo SS, MPd

Guru di SMPN 5 Pati

KASUS tengkes (stunting) di Indonesia tergolong masih tinggi. Menurut data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan menunjukkan balita yang mengalami tengkes di Indonesia tahun 2021 sebesar 24,4 persen (Kompas, 4/2/2022).

Kasus tengkes tidak hanya terjadi di daerah perdesaan tetapi juga di perkotaan. Misalnya di Semarang ada sebanyak 1.367 balita mengalami tengkes (27/1/2022).

Meskipun angka tengkes terus mengalami penurunan. Tetapi angka tengkes di Indonesia masih di atas standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu sebesar 20 persen. Oleh karenanya, Pemerintah menargetkan untuk menurunkan angka tengkes sebesar 14 persen pada tahun 2024.

Persoalan tengkes timbul tidak saja terkait kemampuan ekonomi tetapi juga karena masyarakat belum memiliki literasi gizi.

Akibatnya pola konsumsi masyarakat terbiasa dengan memakan makanan yang tidak sehat. Misalnya anak-anak sekolah biasa mengkonsumi makanan instan dan jajanan di pinggir jalan seperti cilok, telur gulung, sosis, pentol, mi lidi dll.

Makanan tersebut merupakan jenis makanan yang tidak sehat karena mengandung bahan pengawet, pemanis buatan, penguat rasa dan pewarna sintetik yang tinggi kandungan GGL-nya (gula, garam, dan lemak).

Padahal pola konsumsi anak sekolah yang tidak sehat tersebut akan mempengaruhi pada tumbuh kembang dan kecerdasan. Selain itu, bila dikonsumsi terus menerus dalam jangka lama akan meningkatkan risiko kegemukan (obesitas) serta penyakit seperti diabetes, hipertensi, kolesterol, jantung koroner, dan stroke.

Keanekaragaman Pangan

Perlu adanya upaya memberi pilihan makanan alternatif yang lebih sehat pada anak-anak sekolah. Salah satu alternatif makanan yang bisa menjadi pilihan adalah pangan lokal. Pangan lokal merupakan jenis makanan sehat karena memiliki kandungan rendah karbohidrat dan rendah gula.

Menurut UU No. 18/2012 tentang Pangan mendefinisikan pangan lokal sebagai makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat yang selaras dengan potensi dan kearifan lokal.

Definisi lain sebagaimana dikemukakan Juslan yang mengutip pendapat Sastroamidjojo (Supriatna, 2016) mengartikan pangan lokal adalah pangan yang diproduksi setempat (suatu wilayah/daerah) untuk tujuan ekonomi atau dikonsumsi yang berupa bahan pangan baik komoditas primer atau sekunder.

Negara kita memiliki potensi pangan lokal yang besar. Menurut data, Indonesia merupakan negara yang memiliki keragaman sumber pangan tertinggi di dunia setelah Brasil. Indonesia memiliki 77 jenis tanaman sumber karbohidrat, 75 jenis sumber minyak atau lemak, 25 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, dan 110 jenis rempah dan bumbu (Departemen Gizi Masyarakat IPB, 2019).

Pangan lokal tersedia banyak di sekitar kita seperti sukun, jagung, singkong, gembili, talas, ubi jalar, pisang, sagu, ganyong, labu kuning, sorgum dan lain-lain.

Sayangnya potensi pangan lokal tersebut belum dimanfaatkan dan dikelola untuk memenuhi kebutuhan gizi.

Gerakan mengkonsumsi pangan lokal bisa menjadi altenatif makanan bagi anak sekolah. Internalisasi gerakan ini dapat melalui pendidikan (sekolah) dan orang tua.

Sekolah dan orang tua memiliki peran penting untuk mewujudkan pangan lokal menjadi makanan anak sekolah.

Di sekolah, guru dapat menginternalisasikan gerakan pangan lokal ini melalui pembelajaran. Guru medesain pembelajaran dengan memanfaatkan pangan lokal sebagai sumber dan media belajar.

Dalam hal ini guru mengembangkan kurikulum yang ada. Dari Standar Kompetensi (SK)/Kompetensi Dasar (KD) dengan tema yang sesuai dikembangkan dalam pembelajaran dengan menyelaraskan tujuan yang akan dicapai.

Manfaatkan Pekarangan

Tujuan pembelajaran yang akan dicapai agar siswa memiliki pengetahuan, kesadaran dan mengkonsumi pangan lokal.

Artinya kesadaran siswa dalam mengkonsumsi pangan lokal didasari oleh pengetahun bahwa pangan lokal lebih sehat dan kaya nutrisi. Siswa mengkontruksi pikiran kritisnya dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi.

Mereka menjadi pribadi yang otonom dalam memilih antara makanan sehat dan tidak sehat. Siswa memiliki pengetahuan, tindakan dan gaya hidup sebagai konsumen yang mengkonsumsi pangan lokal.

Untuk menguatkan pengenalan pangan lokal. Guru dapat memberi penugasan berupa kecakapan hidup (life skill) dengan meminta siswa untuk memanfaatkan lahan pekarangan sekecil apapun di rumah untuk menanam tanaman lokal baik menggunakan pot maupun teknik hidroponik.

Selain dalam pembelajaran. Penumbuhan literasi pangan lokal dapat melalui budaya sekolah. Pembiasaan baik berikut dapat dipraktikan di sekolah seperti mewajibkan siswa untuk membawa bekal makanan dari rumah dengan menu pangan lokal.

Orang tua untuk ikut mendukung program tersebut dan bersedia menyiapkannya. Program ini juga untuk menghindari anak jajan di luar.

Program lainnya, sekolah dapat bekerjasama dengan instansi kesehatan setempat seperti dinas kesehatan atau puskesmas/rumah sakit yang secara rutin untuk melakukan sosialisasi pada siswa terkait literasi gizi.

Kemudian sekolah dapat memberdayakan kantin sekolah untuk menyediakan makanan lokal dan mengurangi jajanan dan makanan instan.

Kantin sekolah dapat pula berperan dalam mengedukasi siswa terkait makanan sehat yang mereka jual. Kantin sekolah dapat memanfaatkan papan menu dengan menyertakan informasi kandungan GGL semua jenis jajanan yang ditawarkannya. (*)

Baca juga: Februari Diprediksi Jadi Puncak Musim Penghujan, Waspadai Bencana Alam 

Baca juga: Lewat Pelatihan DEA, Wabup Harap UMKM Blora Cakap Digital

Baca juga: Bacaan Sholawat Rajabiyah Lengkap dengan Latin dan Artinya

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved