Cerita Mahasiswi Semarang Ditipu Joki Tugas Kuliah Promo Twitter
Cerita mahasiswi sebuah universitas di Semarang yang ditipu oleh joki tugas kuliah.
Penulis: amanda rizqyana | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Seorang mahasiswi sebuah universitas di Semarang tertipu oleh jasa joki tugas yang berpromosi melalui Twitter.
Menurut Anita (bukan nama sebenarnya), besaran uang tak menjadi masalah, hanya saja jasa joki tugas sudah menyanggupi mengerjakan tugasnya.
Sependek ingatan Anita, ia sudah menghubungi jasa joki tugas sejak empat hari sebelumnya dan bertransaksi di hari yang sama.
Hampir setiap hari ia memastikan proses tugasnya dan selalu berkomunikasi dengan sang joki.
Awalnya sang joki selalu menjawab sedang diproses, hingga pada hari H seharusnya tugas dikumpulkan, sang joki justru memblokir akun Twitter dan Whatsappnya,
Anita pun harus tetap mengerjakan tugas dengan sisa waktu yang tersedia.
"Sebenarnya saya nggak terlalu masalah dengan uangnya, cuma Rp 50 ribu. Tapi karena joki tugas memblokir akun saya, jadi marah sendiri," ujarnya pada Rabu (9/2/2022) siang.
Anita bercerita, ia mendapatkan informasi tentang jasa joki tugas dari sosial media, khususnya Twitter.
Nyaris setiap hari ia membaca permintaan, promosi, maupun testimoni joki tugas dari berbagai akun basis kampus.
Anita mengaku, ini merupakan kali pertama ia menggunakan jasa joki tugas. Ia beralasan, menggunakan jasa joki tugas karena tugasnya bertumpuk.
Ia merasa tak sanggup dengan tugas yang dibebankan dosen dan tugas tersebut ia rasa merupakan tugas terberat, sehingga ia pun berinisiatif menggunakan jasa joki tugas.
"Menurut saya jasa joki tugas sama saja seperti meminta tolong dibuatkan tugas oleh teman, tapi saya membayar dengan upah. Biasanya kalo minta tolong teman dibayar dengan makanan atau rokok, nah untuk jasa joki tugas, dengan uang," urai Anita.
Ia mengaku tak merasa perbuatannya mencurangi dosen karena mengumpulkan tugas yang bukan merupakan hasil pekerjaannya.
Menurutnya jasa joki tugas merupakan usaha yang pasti akan oleh mahasiswa maupun pelajar untuk mendapatkan nilai yang baik.
Ia pun merasa dosen akan marah dan memberikan nilai yang jelek bila ia tidak mengumpulkan tugas.
Ia pun ingin membuat orang tuanya bangga dengan menyandang gelar mahasiswa cumlaude.
Sementara itu, Ahmad Khairudin selaku Dosen Luar Biasa Jurusan Antropologi Universitas Diponegoro (Undip) dan Direktur Hysteria mengatakan kemajuan dan perubahan dari peradaban atau kebudayaan manusia tidak ada jaminan mereka menjadi lebih baik atau tidak.
Dalam hal ini dikaitkan dengan perkembangan teknologi, ditambah politik, dan sosial.
Menurutnya, perkembangan dalam kebudayaan manusia dalam hal apapun memiliki potensi tergelincir dalam kehancuran terbuka lebar.
"Apalagi bila berbicara tentang tugas dan kualitas pendidikan saat ini di mana susah mencari anak-anak di bawah B karena rerata B dan A. Padahal dulu dapat C kadang untuk mata kuliah tertentu setengah mati," urainya.
Khairudin menambahkan, sementara saat ini hampir nilai dari tugas yang diberikan dosen bila diperhatikan berada di angka A dan B terus-menerus padahal di sisi lain tidak dapat mengetahui kualitas sebenarnya dari mahasiswa.
Hal ini juga yang terpengaruh faktor Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Ia menambahkan, peserta didik ini lulus kuliah juga tidak dapat mengembangkan kemampuan atau keterampilan, bahkan tidak dapat melebarkan jaringan karena keterbatasan aktivitas dan interaksi.
"Sedangkan dalam pekerjaan tentu tidak bisa berpegang lagi pada Indeks Prestasi (IP) sehingga para pemberi kerja tidak percaya-percaya amat dengan IPK-IPK seperti ini, makanya dalam rekrutmen karyawan baru ada masa orientasi dan magang dan masa percobaan, untuk melihat apakah mereka cocok dengan beban dan iklim kerja yang sudah dibangun," terangnya.
Dari proses prakerja inilah untuk membuktikan kelayakan seseorang masuk ke dalam struktur inti atau pegawai di perusahaan tersebut.
Perusahaan tidak ingin menginvestasikan waktu dan tenaga untuk mengajari individu yang hanya menang angka di atas kertas, melainkan juga memiliki kesanggupan secara mental dengan iklim dunia kerja.
Ia sendiri merasa pemberian nilai yang baik harus A maupun minimal B merupakan target akreditasi perguruan tinggi yang harus dipenuhi.
Meski baginya, hal tersebut menjadi salah kaprah karena justru akan membuat mahasiswa hanya berorientasi pada nilai.
"Tetapi perusahaan juga tidak senaif itu untuk menerima lulusan sebagai tenaga kerja baru berdasarkan IPK," tandasnya.
(arh)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-pusing-kepala-hadapi-masalah_20161020_122805.jpg)