Pendidikan
Ribuan Pelajar dan Mahasiswa Peserta Dinusfest Dapat Pelatihan Kewirausahaan
Ajang Dian Nuswantoro Festival (Dinusfest) tahun 2022 diikuti 3712 peserta yang berasal dari siswa SMA/SMK dan mahasiswa.
Penulis: amanda rizqyana | Editor: M Syofri Kurniawan
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ajang Dian Nuswantoro Festival (Dinusfest) tahun 2022 diikuti 3712 peserta yang berasal dari siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan mahasiswa.
Acara ini dibuka dengan webinar yang membahas mengenai wirausaha muda di era digital pada Sabtu (12/2/2022).
Dinusfest merupakan rangkaian kegiatan lomba antar SMA (dan sederajat) serta berbagai macam expo dan webinar yang diselenggarakan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang.
Baca juga: Ajang Unjuk Kreasi Siswa SMA/SMK, Udinus Gelar Dinufest 2022
Selain untuk siswa, ada juga lomba bagi mahasiswa dan umum dengan total puluhan jenis lomba.
Dinusfest 2022 dibuka oleh Rektor Udinus, Prof. Dr. Ir. Edi Noersasongko, M.Kom.
Webinar yang mengusung tema 'Akselerasi Wirausaha Muda Dalam Era Digital' diisi oleh tiga pembicara yang ahli dalam bidang kewirausahaan.
Mereka ialah Vice President Strategic Regional Gojek Central West Java Anandita Danaatmaja, Owner Culture Academy Hendriansyah, dan Dekan Fakultas Ilmu Komputer Udinu Dr. Guruh Fajar Shidik, S.Kom., M.Cs.
Pada pidato pembukaannya, Rektor Udinus, Prof. Edi Noersasongko mengatakan bahwa Dinusfest merupakan ajang kreasi Udinus bagi siswa-siswi di sekolah dan mahasiswa.
Menurutnya kegiatan ini akan menumbuhkan semangat berkompetisi bagi siswa SMA yang mengikuti kegiatan Dinusfest 2022.
Melalui ajang ini juga peserta juga dilatih untuk bertanding secara sungguh-sungguh dan tentunya diharapkan peserta menjunjung tinggi sportivitas.
“Webinar ini juga menjadi sarana mentransfer ilmu dari para narasumber kepada para peserta siswa SMA/SMK maupun mahasiswa.,” jelas Rektor Udinus.
Sementara itu, Owner Culture Academy, Hendriansyah berbagi pengalamannya dalam membangun startup hingga mampu memasarkannya.
Dalam paparannya, mahasiswa Program Studi S-1 Sistem Informasi Udinus menjabarkan beberapa alasan yang mampu menjadikan startup itu gagal dalam perjalanannya.
Dua di antaranya tidak ada pasar permintaan produk yang dipasarkan dan startup kehabisan uang tunai karena tak adanya pemasukan dalam roda bisnis perusahaan.
Menurut Hendri sapaan akrabnya–ide awal pembuatan aplikasi Culture Academy muncul ketika melihat potensi kerajinan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia sangat besar, namun produktivitasnya masih rendah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Ajang-Dian-Nuswantoro-Festival-Dinusfest-tahun-2022.jpg)