Berita Banjarnegara
Alat Pemantau Longsor Karya Mahasiswa Unnes di Banjarnegara, Bisa Kirim Data Tanpa Sinyal Internet
Sebagian besar wilayah Kabupaten Banjarnegara rawan longsor. Pergerakan tanah bisa menimbulkan kerugian materi, bahkan jiwa.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: m nur huda
TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Sebagian besar wilayah Kabupaten Banjarnegara rawan longsor. Pergerakan tanah bisa menimbulkan kerugian materi, bahkan jiwa.
Perlu upaya untuk menekan risiko bencana, di antaranya melalui pemasangan alat pendeteksi longsor. Teknologi untuk memantau longsor pun semakin berkembang.
Di antaranya alat monitoring tanah bergerak karya Havid Adhitama beserta tim teknik ORARI Lokal Banjarnegara yang sukses dipasang Desa Tempuran, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara, Mnggu (13/2/2022) lalu.
Ketua ORARI Lokal Banjarnegara, Harsono Widjayanto mengatakan, hingga saat ini potensi longsor belum bisa diprediksi.
Karena itu, perlu teknologi untuk mendeteksi potensi longsor yang lebih akurat. "Perlu adanya alat yang bisa memonitor daerah rawan longsor di Banjarnegara" tuturnya, Sabtu (19/2/2022).
Havid mengakui alat ini masih dalam tahap ujicoba awal. Pemasangan saat ini belum untuk tujuan mitigasi, melainkan untuk menghimpun data parameter terlebih dahulu.
Data-data ini akan dianalisa lebih lanjut. Jika data tersebut sudah diketahui titik normal dan abnormalnya, maka dikembangkan lebih lanjut sebagai Early Warning System (EWS) bencana tanah longsor.
Alat ini diberi nama LSDR, singkatan dari Landslide Data Recorder.
Ia mengklaim alat ini sudah mendapatkan izin experiment dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dengan callsign khusus YH2AEE.
Alat tersebut dikembangkan oleh Havid Adhitama dan Arifin Santoso yang terinspirasi dari satelit LORA.
Kelebihan alat ini bisa mengirimkan data dari daerah terpencil sekalipun yang tidak memiliki jaringan internet.
"Kami mengadopsi cara kerjanya untuk diterapkan pada medan terestrial. Satelit terestrial ini dapat mengirimkan data pemantauan dari lokasi terpencil tanpa memiliki ketergantungan pada jaringan internet, " jelas mahasiswa Unnes itu.
Arifin menambahkan keunggulan alat tersebut, selain rendah daya juga memiliki kapasitas yang baik untuk komunikasi data melalui radio.
Ia menjelaskan, alat pemantau ini dapat memberikan data berupa kemiringan tanah, pergerakan tanah, kejenuhan tanah, intensitas hujan, suhu dan kelembapan udara.
"Ketika data ini diolah dengan tepat maka bukan tidak mungkin potensi longsor bisa diprediksi secara akurat, sehingga masyarakat yang berpotensi terdampak bisa menyelamatkan diri," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Pemasangan-alat-pemantau-longsor-di-Desa-Tempuran-Wanayasa-Banjarnegara.jpg)