Pemerintah Diminta Jaga Harga BBM, Dampak Konflik Rusia-Ukraina

Harga minyak mentah dunia mencapai level 100 dollar AS/barel, sementara pada asumsi APBN, harga minyak hanya dipatok 63 dollar AS/barel.

Editor: Vito
TRIBUNJATENG/IDAYATUL ROHMAH
ilustrasi - Dua orang wanita sedang menunggu pengisian BBM Pertamax 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Harga minyak mentah dunia semakin mendidih akibat invasi Rusia ke Ukraina hingga akhirnya mencapai level 100 dollar AS/barel.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira meminta pemerintah untuk dapat menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) akibat kenaikan harga minyak dunia.

"BBM, Pertamax, Pertalite juga bisa harus terjaga hingga akhir 2022," ujarnya, melalui pesan singkat kepada Tribunnews, Kamis (24/2/2022).

Sebab, menurut dia, pada asumsi APBN, harga minyak hanya dipatok 63 dollar AS/barel.

"Gap antara harga minyak yang ditetapkan APBN dengan riil di lapangan saat ini terlalu jauh, sehingga ada pembengkakan subsidi energi signifikan," katanya.

Bhima mendesak pemerintah segera melakukan APBN perubahan untuk menyesuaikan kembali beberapa indikator, termasuk juga nilai tukar rupiah dan inflasi.

Ia menyebut, inflasi bisa lebih tinggi dari perkiraan, dan pemerintah bisa melakukan antisipasi, seperti melakukan tambahan dana pemulihan ekonomi nasional (PEN).

"Tambahan dana PEN, yang sebagian mencakup stabilitas harga pangan dan energi ke dalam komponen anggaran PEN. Sebab, ini serius, mengancam sekali terhadap pemulihan ekonomi di 2022," tandasnya.

Seperti diketahui, konflik Rusia dan Ukraina pecah. Presiden Vladimir Putin bahkan telah memerintahkan tentaranya untuk masuk ke wilayah Ukraina. Bahkan, Rusia juga sudah mulai menyerang beberapa titik-titik di Ukraina melalui serangan udara. 

Imbas dari agresi tersebut, berbagai harga komoditas pun kembali melejit pada Kamis (24/2). Merujuk Bloomberg, harga gas alam berada di level 4,86 dollar AS/mmbtu, atau menguat 11,03 persen dalam tiga hari terakhir. Sementara harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman April berada di level 97,11 dollar AS/barel alias naik 7,65 persen dalam 3 hari terakhir.

Komoditas energi lain seperti batubara juga terpantau melonjak. Saat ini, harga batubara kontrak pengiriman April di ICE Newcastle berada di level 212,10 dollar AS/ton. Dalam 3 hari terakhir, harganya sudah berhasil naik 14,26 persen.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, efek dari perang tersebut sangat besar.

“Sanksi terhadap Rusia akan memicu berbagai kemungkinan. Namun seperti kita ketahui, Rusia juga ladangnya gas dan minyak, sangat dikhawatirkan tindakan penghentian terhadap jalur gas akan membuat harga energi semakin tinggi,” jelasnya.

Hal ini akan menambah parah kondisi rantai pasokan yang saat ini masih belum pulih sepenuhnya ke level sebelum pandemi covid-19. Sementara di satu sisi, mulai membaiknya ekonomi global mendorong permintaan.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved