Konflik Rusia dan Ukraina
Kementerian Pertahanan Rusia Sebut Cara Bertahan Ukraina dari Serangan Militer Seperti Teroris
Cara Ukraina bertahan dari serangan militer Rusia disebut mirip pola yang digunakan teroris.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Cara Ukraina bertahan dari serangan militer Rusia disebut mirip pola yang digunakan teroris.
Hal itu disampaikan Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia, Jumat (25/2/2022).
Dalam keterangan resminya mereka mengatakan bahwa Ukraina menerapkan 'metode yang sama seperti teroris', menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia.
"Kepemimpinan nasionalis kalian menggunakan metode yang sama seperti teroris."
Baca juga: Suami Racuni Istri dengan Secangkir Kopi Berisi Obat Mematikan, Gara-gara Dibakar Cemburu
Baca juga: Apa Itu Likuifaksi? Fenomena Semburan Lumpur Seusai Gempa Pasaman Sumatera Barat
Baca juga: Video Kolaborasi Tiga Kepala Daerah Tanggapi Permasalahan Ekonomi
"Mereka ingin menggunakan kalian sebagai tameng manusia."
"Angkatan bersenjata Rusia tidak akan melancarkan serangan apapun ke daerah pemukiman di ibu kota Ukraina (Kiev)," kata kementerian itu dalam pidatonya kepada warga Ukraina pada Jumat kemarin.
Dikutip dari laman Sputnik News, Sabtu (26/2/2022), pidato tersebut disampaikan saat Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov mengatakan kepada wartawan bahwa Dinas Keamanan Ukraina telah menempatkan kelompok nasionalis di unit militer reguler angkatan bersenjata negara itu.
"Dinas Keamanan Ukraina menyusup ke unit militer reguler dari kelompok angkatan bersenjata Ukraina yang terdiri dari 25 hingga 30 orang yang menjalani pelatihan khusus," kata Konashenkov.
Ia menambahkan bahwa 'kaum nasionalis mengidentifikasi individu yang tidak dapat diandalkan diantara militer Ukraina'.
"Dan jika Komandan unit Angkatan Bersenjata Ukraina memutuskan untuk mundur dari garis pendudukan, mereka (kaum nasionalis ini) bertindak sebagai detasemen serangan," tegas Konashenkov.
Di tengah serangan yang sedang berlangsung yang diklaim dilakukan oleh pasukan Ukraina di Donbass, Rusia meluncurkan operasi militer khusus sejak Kamis lalu untuk menghentikan pertumpahan darah, yang menargetkan militer Ukraina.
Presiden Rusia Vladimir Putin menekankan bahwa operasi itu bertujuan untuk 'demiliterisasi dan denazifikasi' Ukraina.
Baca juga: Video Proyek Tol Demak-Tuban Lewati Areal Persawahan di Pati Masih Tentatif
Baca juga: Makanan Pedas Bisa Redakan Batuk dan Pilek? Ini Hasil Penelitiannya
Baca juga: Promo Indomaret Hari Ini 26 Februari 2022 Super Hemat Nutrijell Puding Susu Diskon Besar-Besaran
Kemhan Rusia, pada gilirannya, menyatakan bahwa senjata presisi menetralkan objek infrastruktur militer Ukraina, termasuk pangkalan udara dan pertahanan udara.
Kementerian itu kemudian menekankan kota-kota di Ukraina tidak menjadi sasaran dan hanya fasilitas militer saja yang dinetralisir.
Pada Senin lalu, Rusia telah mengakui kemerdekaan Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Republik Rakyat Lugansk (LPR) dari Ukraina.
Langkah itu dilakukan di tengah aksi pengeboman intensif yang diduga dilakukan oleh Angkatan Darat Ukraina terhadap DPR dan LPR, yang menyebabkan jatuhnya korban sipil di wilayah itu. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Kemhan Rusia: Ukraina Terapkan Metode yang Sama Seperti Teroris, Gunakan Warga Sipil sebagai Tameng,
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/potret-serangan-Rusia-di-Ukraina.jpg)