Jumat, 10 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

OPINI DR Aji Sofanudin : Marhaban Ya Ramadan

MASYARAKAT muslim menyambut gembira hadirnya bulan suci Ramadan dengan berbagai ekspresi. Dulu, anak-anak sering diajak ayahnya potong rambut

tribunjateng/cetak/bram
Problem Investasi Dana Haji.Opini ditulis oleh Dr Aji Sofanudin, MSi, Peneliti pada Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang 

Oleh DR Aji Sofanudin
Senior Researcher pada Pusat Riset Agama, BRIN

MASYARAKAT muslim menyambut gembira hadirnya bulan suci Ramadan dengan berbagai ekspresi. Dulu, anak-anak sering diajak ayahnya potong rambut jelang puasa.

Tempo dulu, banyak tetangga yang bersih-bersih rumah secara menyeluruh, bahkan “mewajibkan” rumahnya dilabur (dicat baru).

Di banyak tempat ada juga tradisi “munjung” atau berkirim makanan kepada tetangga dan kerabat jelang Ramadan.

Ada juga yang menyelenggarakan ritual “arwah jamak” yakni tradisi kirim doa untuk keluarga yang sudah meninggal dunia. Banyak juga yang menyelenggarakan “nyadran” yakni resik-resik kubur (membersihkan makam leluhur) serta ziarah kubur.

Tradisi masyarakat menyambut Ramadan banyak ragamnya. Ada tradisi padusan yakni dengan cara berendam atau mandi di sumber mata air, sehari menjelang puasa. Di Kudus dikenal tradisi dandangan, menampilkan kirab yang merupakan representasi budaya di Kudus.

Puncak seremoni dandangan dilakukan dengan cara memukul bedug Masjid Menara Kudus. Di Semarang ada dugderan atau festival rakyat menyambut datangnya bulan Ramadan.

Di setiap dugderan, pasti Warak Ngendok yang menjadi simbol acara diarak dan ikut dalam karnaval. Semua itu dilakukan sebagai ekspresi fisik dan mental dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Hadits nabi, "man farikha bi duhuli ramadlan, harramallahu jasadahu alanniran" barangsiapa bergembira dengan hadirnya bulan Ramadan, Allah akan mengharamkan jasadnya dari siksa api neraka.

Hadits ini seolah menjadi dorongan dan semangat agar setiap muslim menyambut hadirnya bulan suci Ramadan dengan suka cita.

Dengan “hanya” mengungkapkan kegembiraan misalnya ucapan “Alhamdulillah ketemu Ramadan lagi” diyakini akan mendapatkan balasan terhindar dari siksa api neraka.

Oleh karena itu, mayoritas masyarakat melakukan Tarhib Ramadan, yaitu tradisi menyambut Ramadan.

Penentuan Awal Puasa

Selain tradisi menyambut Ramadan, ada juga “tradisi” penentuan awal Ramadan yang beragam. Secara umum, penentuan masuknya bulan Ramadan dapat dilakukan dengan dua metode.

Pertama, dengan metode hisab atau perhitungan hilal secara matematis dan astronomis. Kedua, metode rukyatul hilal yaitu aktivitas mengamati visibilitas hilal.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved