Sabtu, 13 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pertamax Mulai Ditinggalkan Konsumen, SPBU Batasi Penjualan Pertalite

kenaikan harga Pertamax 92 menyebabkan penjualan produk itu di SPBU kini menjadi sepi peminat.

Tayang:
Editor: Vito
TRIBUN JATENG/REZANDA AKBAR
Suasana di sebuah SPBU wilayah Kabupaten Semarang seusai kenaikan harga Pertamax, belum lama ini. 

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamax 92 dari Rp 9.000/liter menjadi Rp 12.500/liter menimbulkan keresahan bagi penggunanya, bahkan sebagian memilih beralih menggunakan Pertalite.

Hal itu seperti diungkapkan Yuanto, driver ojek online (ojol), yang biasa menggunakan Pertamax 92. Menurut dia, kenaikan harga BBM itu sangat berpengaruh baginya.

"Kalau buat (driver-Red) ojol itu pengaruh sekali, soalnya ojol kerjanya memang menggunakan BBM ya," katanya, saat beristirahat di trotoar Jalan Diponegoro, Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin (4/4).

Sebelum kenaikan harga, ia mengaku menggunakan Pertamax 92 dengan alasan lebih baik untuk mesin. Namun ketika Pertamax 92 naik, mau tidak mau ia beralih menggunakan Pertalite, untuk menghemat biaya pengeluaran.

Namun, saat antrean Pertalite di SPBU dirasa terlalu panjang, atau ketika Pertalite habis, Yuanto pun terpaksa membeli Pertamax.

"Misalnya waktu antrean Pertalite panjang atau barangnya tidak ada, otomatis beli Pertamax. Nah, saat itu pengeluaran terasa banget," jelasnya.

Yuanto mengaku pendapatan sangat terasa berkurang apabila memaksakan menggunakan Pertamax, mengingat ongkos ojol tidak ada kenaikan.

"Kalau tarif ojol tetap, nggak ada kenaikan, nggak ada perubahan juga. Jadi kalau pakai Pertamax ya ditanggung sendiri," ucapnya.

Adapun, kenaikan harga Pertamax 92 menyebabkan penjualan produk itu di SPBU kini menjadi sepi peminat. Hal itu seperti terjadi di SPBU Ngampin Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Anjlok

Penjualan Pertamax 92 di SPBU itu tercatat anjlok hingga 1 ton. "Dari kemarin lumayan turunnya (penjualan-Red), sampai 1 ton, atau sekitar 30 persen," ucap Betty Kusuma, Manager SPBU 44.507.16 Ngampin Ambarawa, Senin (4/4).

Untuk menunjang penjualan Pertamax, menurut dia, manajemen SPBU tersebut kini terpaksa menerapkan kebijakan melakukan pembatasan penjualan Pertalite.

"Kami buka jam pelayanannya untuk Pertalite tidak 24 jam. Kan kami ada target penjualan, tapi mungkin ini akan dikaji kembali, kerena ada harga naik (Pertamax 92) itu ya," tutur Betty.

Hal serupa terjadi di SPBU Lemah Abang Kabupaten Semarang. "Beberapa hari setelah kenaikan (harga-Red), Pertamax sepi antreannya," ucap Kepala SPBU Lemah Abang, Darmanto, saat dikonfirmasi melalui telepon, Senin (4/4).

Menurut dia, sepinya peminat tersebut menyebabkan penurunan penjualan Pertamax. "Menurun (penjualan-Red). Kalau perkiraannya ya sampai sekitar 15-20 persen lebih," ucapnya.

Darmanto menuturkan, kenaikan harga sangat mempengaruhi penjualan, di mana menyebabkan sebagian besar masyarakat memilih beralih ke produk Pertalite.

"Gimana ya, orang-orang biasanya kan cari yang murah. Antrean di Pertamax itu biasanya lumayan. Yang masih bertahan biasanya hanya yang sudah senang pakai Pertamax," jelasnya.

Ia menyebut, pengguna Pertamax yang masih bertahan lebih pada pengguna sepeda motor. "Yang sepeda motor sebagian masih mau bertahan menggunakan Pertamax, tapi kalau pengguna mobil jarang-jarang, setia menanti di antean Pertalite," ucapnya.

Terkait dengan isu Pertalite yang mulai langka, Darmanto menyatakan stok di SPBU yang dikelolanya saat ini aman. "Kalau stok Pertalite aman sih," tukasnya. (Tribunjateng.com/Rezanda Akbar D)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
Live
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved