Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Banyumas

Pendeta di Banyumas Putuskan Jadi Mualaf di Bulan Ramadhan, Islam Agama Penuh Cinta Kasih dan Damai

Baru-baru ini beredar video prosesi seorang Pendeta Kristen yang masuk Islam di Banyumas.

Tayang:
Penulis: Imah Masitoh | Editor: sujarwo
Istimewa
Sosok Hengki Pradono seorang Pendeta yang memutuskan menjadi Mualaf di Banyumas, Selasa (12/4/2022). 

Hingga pada 2 bulan terakhir ia mulai berfikir dan terjadi gejolak di batinnya. 

Latar belakang dirinya menjadi seorang pendeta membuatnya berfikir dan mempertimbangkan segala sesuatunya bila ia menjadi mualaf.

“Dua bulan yang lalu saya mulai berfikir untuk saya hijrah, tetapi saya kembali ke status. Bagaimana mungkin menjadi seorang Muslim padahal saya seorang pendeta yang cukup terkenal di Jakarta, dan saya punya anak dari istri yang dulu juga seorang Kristen,” terangnya kepada Tribunjateng.com.

Seiring berjalannya waktu, ia dipertemukan lagi dengan salah satu tokoh organisasi Islam dari Tambak Banyumas bernama Muhammad Syaebani. 

Ia tertarik dengan kisah Nabi Ibrahim yang harus mengorbankan putranya bernama Ismail sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhannya. 

Hingga pada akhirnya Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba. Dari kisah Nabi Ibrahim tidak jadi mengorbankan putranya melainkan sebuah domba yang digantikan Allah.

Dari sinilah ia mulai berfikir lagi dan menurutnya ada satu pemahaman yang kaitannya dengan Alkitab dengan Al-Quran yang tidak ingin ia publikasikan kepada khalayak.

“Karena ini lebih bersifat pribadi kaitannya untuk menjaga sebuah pemahaman dengan Saudara kita,” ungkapnya.

Hingga pada satu bulan yang lalu istrinya meminta izin kepadanya untuk menjadi seorang Muslim kembali  setelah dulu memutuskan berpindah keyakinan mengikutinya saat menikah pada tahun 2017 silam. 

Ia tidak melarang sama sekali justru ia mencarikan orang yang tepat untuk menuntun istrinya kembali ke ajaran Islam dan ia memilih tetap teguh dengan pendiriannya dengan keyakinannya dulu.

“Sepanjang perjalanan kita menikah sejak 2017, saya tidak pernah meminta atau mengajak istri saya untuk mengikuti kepercayaan saya dulu. 

Saya tidak pernah memaksakan kehendak kepada orang lain. Saya juga punya anak angkat yang saya masukan pondok pesantren pada saat saya masih menjadi Pendeta dulu,” jelasnya.

Hingga pada Rabu (30/3/2022) istrinya akan mengucapkan dua kalimat syahadat di kediamannya yang dibimbing oleh Muhammad Syaebani dan dihadiri beberapa saksi. 

Saat detik-detik istrinya akan mengucapkan syahadat, ia sangat ingin berbisik kepada tokoh agama yang akan mengislamkan istrinya itu untuk menyampaikan dirinya juga ingin mengucapkan dua kalimat syahadat.

“Kaki saya kaya dipaksa untuk menuju Abah Syaebani. Seorang yang tadinya sombong, takut kehilangan harga diri karena seorang Pendeta. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved