Harga Emas bakal Melambung Lagi,Terdongkrak Konflik Geopolitik

Kekhawatiran eskalasi konflik Rusia-Ukraina meningkatkan tawaran safe-haven untuk logam mulia.

Editor: Vito
Harga Emas bakal Melambung Lagi,Terdongkrak Konflik Geopolitik
istimewa
ilustrasi - Emas Batangan

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Harga emas dunia terus mengalami peningkatan dalam beberapa waktu belakangan ini. Kekhawatiran eskalasi konflik Rusia-Ukraina meningkatkan tawaran safe-haven untuk logam mulia.

Melansir Reuters, Rabu (13/4), harga emas spot naik 0,2 persen di level 1.970,21 dollar AS per ons troi, pada 0748 GMT, setelah mencapai puncak hampir satu bulan di level 1.978,21 dollar AS per ons troi pada hari Selasa. Sementara harga emas berjangka AS turun 0,3 persen pada level 1.970,80 dollar AS per onstroi.

Analis pasar komoditas sekaligus Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, melonjaknya harga emas disebabkan oleh sejumlah masalah global.

Hal itu mulai dari konflik Rusia-Ukraina yang diikuti dengan adanya beragam sanksi untuk Rusia, masalah Iran dengan AS, hingga terjadinya inflasi AS yang melonjak di angka 8,5 persen.

“Penyebabnya masalah geopolitik yang kembali memanas, di antaranya Rusia kemungkinan akan kembali menginvasi Ukraina dengan target penguasaan 100 persen,” katanya, Rabu (13/4).

“Kemudian terdapat juga faktor lain seperti Iran yang memberikan sanksi ekonomi terhadap pejabat-pejabat AS akibat kebuntuan masalah reaktor nuklir, dan semenanjung Korea kembali memanas setelah Korea Utara mengatakan ke Joe Biden Presiden sinting, serta inflasi AS yang melonjak di 8,5 persen,” sambungnya.

Adanya sejumlah faktor global tersebut bakal memungkinkan harga emas dunia kembali semakin menguat. Bahkan, Ibrahim memprediksi, harga komoditas tersebut bakal menembus angka 2.000 dollar AS per ons troi.

“Harga emas dunia pada perdagangan hari ini akan terus menguat, saat ini berada di posisi 1.971 dolar AS, dan ada kemungkinan akan menuju 2.017 dollar AS per ons troi. Kalau seandainya 2.017 dollar AS tersentuh, maka akan mungkin kembali naik ke 2.050, 2.100, hingga 2.150 dollar AS per ons troi,” jelasnya.

Senada, analis senior OANDA, Jeffrey Halley menyebut, emas diuntungkan dari beberapa permintaan safe-haven minggu ini karena kekhawatiran inflasi, tersandungnya pertumbuhan China, dan perang di Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan negosiasi damai dengan Ukraina yang terputus-putus sebagai situasi buntu pada hari Selasa (12/4). Sementara, Presiden AS Joe Biden mengatakan untuk pertama kalinya bahwa invasi Moskow ke Ukraina sama dengan genosida.

Kurang menarik

Meski demikian, indeks dollar yang menguat di dekat level tertinggi sejak Mei 2020, membuat emas kurang menarik bagi pembeli luar negeri, setelah jaminan dari Gubernur Federal Reserve AS Lael Brainard bahwa bank sentral akan tetap berada di jalur kenaikan suku bunga.

Meski emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan risiko geopolitik, kenaikan suku bunga akan meningkatkan biaya peluang memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.

"Inflasi Maret naik 8,5 persen, tahun ke tahun, yang merupakan tertinggi 40 tahun, inflasi secara historis bullish untuk komoditas keras," kata Michael Langford, director at corporate advisory AirGuide.

"Itu dikatakan emas tidak memiliki hasil yang dapat diatribusikan dan dalam lingkungan suku bunga tinggi, akan kurang diinginkan dibandingkan dengan kelas aset lainnya. Saya melihat emas memiliki beberapa kenaikan minimal, tetapi jangka menengah hingga jangka panjang lebih mungkin untuk jatuh harganya."

Menurut analis teknis Reuters, Wang Tao, harga emas spot bakal menghadapi resistensi kuat di level 1.975 dollar AS per ons troi.

Sebagai informasi, melonjaknya harga emas dunia juga berpengaruh terhadap harga emas batangan atau logam mulia PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Pekan ini harga emas Antam juga tercatat tengah dalam tren kenaikan.

Pada Rabu (13/4), harga emas batangan Antam di Kota Semarang dibanderol Rp 1,006 juta/gram. Harga itu tercatat mengalami kenaikan sebesar Rp 5.000 dari hari sebelumnya, Selasa (12/4), yakni Rp 1,001 juta/gram. 

Harga pada Selasa itu juga sudah tercatat mengalami kenaikan Rp 4.000 dari hari sebelumnya, Senin (11/4), sebesar Rp 997 ribu/gram. (Tribunnews/Bambang Ismoyo/Kontan/Yudho Winarto/Tribun Jateng/Idayatul Rohmah)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved