Selasa, 5 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

OPINI Dewani Sheila Almaida : Apa Kompetensi Milenial Cari Kerja di Era VUCA

VUCA adalah singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity. Volatility bermakna perubahan dunia yang sangat cepat dan tidak dapat dipre

Tayang:
Bram
Dewani Sheila Almaida 

Oleh Dewani Sheila Almaida, SPsi, MPsi
Alumni Magister Psikologi Unika Semarang

VUCA adalah singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity. Volatility bermakna perubahan dunia yang sangat cepat dan tidak dapat diprediksi, contohnya tahun 2020 adalah tahun merebaknya pandemic COVID-19 yang tidak pernah diduaga oleh masyarakat dunia sebelumnya.

Uncertainty bila diterjemahkan memiliki arti ketidakpastian, maksudnya adalah masa depan penuh dengan misteri dan bahkan pengalaman masa lalu atau pengalaman saat ini belum tentu dapat dijadikan acuan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan.

Complexity adalah kompleksitas artinya faktor penyebab suatu masalah semakin banyak jenisnya dan saling berkorelasi satu sama lain, ini menjadi tantangan mencari solusi tepat yang faktanya kadang solusi yang ditawarkan tidak dapat sepenuhnya meredakan sutau permasalahan.

Ambiguity memiliki arti keadaan yang tidak jelas dan cenderung membingungkan. Sederhananya, VUCA adalah kondisi yang memunculkan banyak sekali pertanyaan dan menjadi tantangan bagi para pemangku kepentingan dalam segala sektor di dunia.

Bagaimana milenial mencari kerja di era VUCA ?

Millenial adalah generasi yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000an. Pandemi COVID 19 adalah salah satu situasi nyata di era VUCA. Selama pandemic COVID-19 tingkat pengangguran milenial lebih tinggi dibanding kelompok usia lainnya.

Hasil survei angkatan kerja nasional per Februari 2020 dan Februari 2021 yaitu sebelum dan setelah pandemi menunjukkan bahwa tingkat pengaguran terbuka pada usia 15-29 tahun mengalami kenaikan sekitar 2,18 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga menyebutkan kelompok milenial adalah tenaga kerja yang paling terdampak COVID-19. Tempat kerja membutuhkan mereka untuk menggantikan generasi sebelumnya, namun tampaknya milenial mengalami banyak batu sandungan ketika mencoba masuk ke pasar kerja.

Survei unik baru baru ini beredar tentang kelompok milenial memilih menganggur daripada bekerja di tempat yang tidak nyaman.

Sebenarnya ini dimaknai dengan milenial yang mengambil resiko meninggalkan pekerjaan lama demi pekerjaan baru dan terdapat jeda masa mencari kerja sehingga status mereka adalah menganggur.

Pekerjaan baru yang diharapkan tentunya yang memprioritaskan kesehatan mental dan work-life balance dalam menjalani pekerjaan yang merupakan gaungan khas kelompok milenial. Kelompok milenial juga dilabel sebagai kaum selektif dalam memilih pekerjaan, mereka berada di era VUCA sehingga cenderung memilih pekerjaan yang memiliki peluang kepastian jangka panjang.

Ditambah lagi terdapat enam hasil riset unik lain pada kelompok milenial yaitu 61 % milenial lebih suka bekerja jarak jauh dibanding di ruang kantor tradisional, 62 % milenial akan mempertimbangkan menolak tawaran pekerjaan setelah wawancara yang tidak menyenangkan, 30 % milenial akan memutuskan resign lebih cepat karena rendahnya gaji dan peluang kemajuan karier.

Milenial mengalami lebih banyak tekanan dari organisasi dan perubahan pekerjaan daripada generasi lainnya, serta milenial adalah kelompok yang sukar memiliki daya juang.

Hasil riset tentang karakteristik negatif dari millenial menunjukkan mereka memiliki tiga masalah dasar yaitu konsentrasi, keterlibatan dan sosialisasi (Karakas dkk, 2015).

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved