Ramadan 2022
TADARUS : Prof Dr H Ustad Gunarto SH MHum : Revolusi Pendidikan untuk Indonesia Maju
ILMU pengetahuan itu bagaikan cahaya di malam yang gelap. Ilmu menjadi penuntun manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia ini.
Oleh Prof Dr H Ustad Gunarto SH MHum
Rektor Universitas Islam Sultan Agung, Semarang
ILMU pengetahuan itu bagaikan cahaya di malam yang gelap. Ilmu menjadi penuntun manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia ini.
Dengan ilmu manusia dapat mengetahui mana yang hak dan mana yang batil. Begitu pentingnya ilmu pengetahuan sehingga surat pertama yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yaitu surat Al Alaq ayat 1-5 yang merupakan dasar perintah untuk menuntut ilmu.
Mengapa perintah pertama adalah perintah membaca bukan perintah salat, zakat, puasa, haji dan ibadah lainnya?
Hal ini mengindikasikan sebelum kita salat, puasa, haji dan mengerjakan berbagai perintah lainnya kita harus mengetahui ilmunya.
Sungguh tidak sama antara orang orang yang berilmu dengan orang orang yang tidak berilmu.
Ilmu bagaikan kunci dan orang orang yang sedang menuntut ilmu laksana orang orang yang sedang berusaha meraih kunci- kunci kebahagiaan di dunia maupun kunci- kunci kebahagian di akhirat.
Sangatlah tepat sebuah kalimat hikmah yang menyatakan barang siapa menginginkan kebahagiaan dunia, maka tuntutlah ilmu dan barang siapa yang ingin kebahagiaan akherat, tuntutlah ilmu dan barang siapa yang menginginkan keduanya tuntutlah ilmu pengetahuan.
Derajat Ditinggikan
Lantas mana yang harus didahulukan menuntut ilmu pengetahuan atau menuntut ilmu agama?. Sebenarnya pertanyaan seperti itu merupakan pertanyaan yang absurb. Dalam Islam tidak terdapat dikotomi antara ilmu pengetahuan dan ilmu agama.
Alquran menekankan agar setiap muslim mencari ilmu pengetahuan dengan meneliti alam semesta ini, dan bagi orang yang menuntut ilmu telah dijanjikan mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah sebagaimana disebutkan dalam Alquran Surat Al Mujadalah ayat 11 yang artinya: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa Islam tidak pernah menganggap adanya dikotomi ilmu pengetahuan dan ilmu agama.
Adanya dikotomi keilmuan ini akan berimplikasi pada dikotomi model pendidikan.
Di satu pihak ada pendidikan yang hanya memperdalam ilmu pengetahuan modern yang kering dari nilai-nilai keagamaan, dan di sisi lain ada pendidikan yang hanya memperdalam masalah agama yang terpisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan.
Sesungguhnya ilmu itu tidak bebas nilai, tetapi sarat dengan nilai. Sehingga sangat penting adanya islamisasi ilmu pengetahuan supaya orang yang belajar ilmu pengetahuan bisa terpola langsung pemikiran dan tingkah lakunya.
Untuk meraih tujuan tersebut maka harus diperhatikan beberapa hal antara lain pertama jadikan Alquran dan sunnah sebagai landasan dalam berpikir. Dua, lakukan pencarian terhadap ilmu-ilmu modern dan yang ketiga lakukan pendekatan filsafat dalam ilmu pengetahuan tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Dekan-Fakultas-Hukum-Unissula-Prof-Dr-Gunarto-SH-MHum.jpg)