Penyerapan Uang Tunai selama Ramadan Capai Rp 172 Triliun

Penyerapan uang tunai pada periode Ramadan tahun ini mencapai Rp 172 triliun, atau 98 persen dari yang disiapkan bank sentral.

Editor: Vito
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
ilustrasi - Warga menujukkan uang rupiah pecahan baru sesuai antre penukaran di mobile konter Bank Indonesia. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat penyerapan uang tunai yang disiapkan untuk periode Ramadan dan Idulfitri tahun ini telah mencapai Rp 172 triliun.

Direktur Departemen Pengelolaan Uang BI, Eva Aderia mengatakan, nilai tersebut setara dengan 98 persen dari uang tunai yang telah disiapkan oleh bank sentral, yakni sebesar Rp 175,26 triliun.

"Sekarang sudah Rp 172 triliun, jadi kurang lebih 98 persen sudah ditarik untuk masyarakat," ujarnya, saat meninjau penukaran uang baru di Pasar Pramuka, Jakarta, Kamis (28/4).

Adapun, satu pemanfaatan dari uang tunai yang disiapkan oleh BI ialah untuk layanan penukaran uang pecahan baru. Eva menjelaskan, untuk layanan penukaran uang dilayani Kas Keliling BI, setiap titik biasanya membawa uang modal sebanyak Rp 900 juta hingga Rp 1,1 miliar.

Uang tersebut disiapkan untuk memenuhi kuota 250 penukaran dengan nilai maksimal penukaran Rp 3,8 juta per orang di setiap satu titik Kas Keliling.

Eva mengungkapkan, layanan Kas Keliling yang telah ditutup pada Kamis (28/4) itu telah menerima 47.049 pesanan penukaran uang melalui aplikasi Pintar.

"Selain kami melayani melalui Pintar, kami juga melayani masyarakat yang datang secara langsung. Jadi kami penuhi juga. Jumlah penukarannya lebih dari 47.000," terangnya.

Sebagai informasi, meskipun layanan Kas Keliling berakhir pada Kamis kemarin, masyarakat masih bisa melakukan pemesanan penukaran uang pada aplikasi Pintar BI.

Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI, Marlison Hakim sempat menjelaskan, penyiapan uang tunai pada periode Ramadan dan Idulfitri tahun ini sebesar Rp 175,2 triliun, meningkat 13,42 persen dari periode sama tahun lalu sebesar Rp 154,4 triliun.

Kenaikkan pasokan uang tunai tersebut bukan hanya mempertimbangkan adanya peningkatan indikator perekonomian, tapi juga berbagai aspek lain, seperti mobilitas masyarakat yang semakin luas, sebagai dampak dari penanganan pandemi covid-19.

Selain itu, kenaikan pasokan uang tunai itu juga merupakan respon bank sentral terhadap kebijakan pemerintah yang kembali memperbolehkan mudik Lebaran, setelah 2 tahun dilarang akibat pandemi covid-19.

"Serta tentunya aspek kebijakan pemerintah, adanya dicairkan BLT pada masa Ramadan ini. Pemenuhan kebutuhan uang Ramadan dan Idulftri menjadi semacam hajatan nasional, karena secara tahunan kita menemui ini," tandasnya. (Kompas.com/Rully R Ramli)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved