TADARUS

TADARUS DR KH Multazam Ahmad, MA : Idul Fitri dan Deklarasi Kemenangan

ALLAHU AKBAR, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha Illallah wa Allahu Akbar. Allahu Akbar Walilllahil Hamdu. Kalimat takbir dan tahmid

tribunjateng/ist
DR. Multazam Ahmad, MA | Takmir Masjid Raya Baiturrahman Semarang 

Oleh DR KH Multazam Ahmad, MA
Sekretaris MUI Provinsi Jawa Tengah

ALLAHU AKBAR, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha Illallah wa Allahu Akbar. Allahu Akbar Walilllahil Hamdu. Kalimat takbir dan tahmid selalu mengiringi datangnya Hari Raya Idul Ftri 1443H/2022 M.

Ucapan Kalimat tersebut sangat menyentuh hati kaum muslimin yang baru saja selesai menjalani ibadah puasa Ramadan.

Terlebih kita semua masih berduka dalam situasi Covid-19, meski sudah ada pelonggaran (relaksasi) dalam beribadah dan mudik. Pemahaman secara umum umat Islam Indonesia, Idul Fitri dipahami “kembali kepada kecucian”.

Ibadah puasa selama Ramadan, Allah swt akan memberi penghargaan kepada orang-orang yang konsisten menjalankan perintah-Nya yakni, dosa-dosa kita diampuni, memeroleh kembali status kesucian, dan terlahirkan dalam keadaan suci.

Baik suci ucapan, tingkah laku, dan akhlaknya. Itulah merupakan dambaan setiap orang mendapat derajat yang tinggi dihadapan Allah swt (muttaqiin).

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS.Al-Baqarah:183).

Menurut Ali Syariati, seorang mufti sosiolog Iran, bahwa mengagungkan dan mengumandangkan asma Allah swt saat Idul Fitri, merupakan deklarasi dan kemenangan manusia.

Manusia dilahirkan dalam keadaan merdeka dan kemuliaan yang sama di dunia ini. Konsekuensinya, tidak ada yang ditakuti, disembah, dan dituju kecuali hanya Allah swt.

Penghambaan terhadap manusia karena memiliki atribut yang melekat seperti, memuji-muji kedudukan, jabatan, kekayaan, kepandaian, yang sering membuat manusia silau dan lupa diri yang pada giliranya bisa menilai dan merendahkan orang lain. Inilah merupakan sikap yang tidak terpuji dan tidak dibenarkan dalam agama.

Tidak ada perbedaan kehormatan yang didasarkan etnis, ras, dan golongan.Yang membedakan adalah nilai ketaqwaanya.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. ( QS. Al Hujurat: 13).

Deklarasi Kemenangan

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved