Guru Berkarya
Pembelajaran Buku Fiksi dan Nonfiksi Membangun Budaya Literer
UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah.
Oleh: Ida Arijani SPd, Guru SMPN 4 Polokarto Kab Sukoharjo
TINGKAT pendidikan di Indonesia secara mayoritas menunjukkan perkembangan yang baik. Namun demikian hal itu tidak sertamerta ditandai dengan budaya baca dan menulis yang meningkat . Masyarakat kita bukan masyarakat yang suka membaca dan menulis, tetapi budaya masyarakat yang melihat dan mendengar.
Kebiasaan itu akan memunculkan sikap hanya penikmat budaya daripada mengamati dan menghasilkan. Hal itu sangat berpengaruh pada produktivitas berpikir sebuah masyarakat. Dengan maraknya media sosial, kecenderungan budaya melihat, mendengar ,dan penikmat semakin mengemuka. Rendahnya budaya membaca akan berpengaruh pada kegiatan menulis , hal itu bisa dikatakan juga dengan rendahnya budaya literasi (literer)
UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca! Ironisnya, meski minat baca buku rendah tapi data wearesocial per Januari 2017 mengungkap orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari..
Berkaiatan dengan hal di atas Penulis akan membahas buku fiksi dan nonfiksi. secara umum, kaitannya membangun budaya literer di kalangan siswa. Buku fiksi adalah buku berisi cerita yang bersifat rekaan. Sedangkan buku nonfiksi adalah buku yang berisikan kejadian berdasarkan fakta dan kenyataan, berupa pendapat, opini, kajian dari penulis . Di dalam praktek pembelajaran biasanya selalu bersinergi dengan perpustakaan sekolah.
Perpustakaan sebagai tempat praktek pembelajaran buku fiksi dan nonfiksi. Siswa diberikan pemahaman tentang buku fiksi dan nonfiksi, kemudian mencari contoh, mengidentifikasi, menganalisis ciri-ciri dan perbedaannya.
Di atas adalah langkah awal bagaimana tema ini menjadikan siswa dekat dengan berbagai jenis buku yang digolongkan buku fiksi dan nonfiksi. Implementasinya siswa terbiasa berkunjung ke perpustakan karena minat baca yang meningkat, untuk membentuk budaya literer di kalangan siswa.
Sekolah sebagai lembaga pedidikan memiliki peranan sangat besar dalam upaya mengembangkan tradisi literer. Sebab, pendidikan adalah proses membudayakan antara seorang pendidik dan siswa. Semuanya bermula dan berkembang dari aktivitas tersebut.
Budaya literer menanamkan gairah membaca bukanlah hal yang mudah. Perlu pembiasaan sejak dini serta fasilitas baca yang menarik. Kegiatan membaca yang dilakukan pun harus sistematis, disesuaikan dengan tingkat tertumbuhan dan perkembangan psikologis anak.
Literasi merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, mengartikan, menciptakan, mengomunikasikan, menghitung, menggunakan materi tercetak dan tertulis . Melalui pemaknaan tersebut, bahwa kegiatan literasi tidak hanya diartikan sebagai suatu kegiatan membaca dan menulis saja, namun dengan cakupan yang lebih mendalam
Ketika literasi terintegrasi pada semua aspek kegiatan sehari-hari, disitulah mulai tertanam adanya budaya literasi. Kata budaya memiliki makna suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh sebab itu, pemaknaan budaya literasi merupakan suatu penanaman kebiasaan, yang kemudian bekembang menjadi suatu pedoman dalam melakukan segala kegiatan yang diwariskan dari generasi ke generasi (*)