Arak-arakan Kereta Kencana Bupati Wihaji dan Wabup Suyono Lakukan Tradisi Sawuran
Ribuan warga memadati rute arak-arakan Kirab Budaya dalam rangka HUT ke-56 Kabupaten Batang.
Penulis: dina indriani | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Ribuan warga memadati rute arak-arakan Kirab Budaya dalam rangka HUT ke-56 Kabupaten Batang.
Riuh gemuruh kegembiraan dari warga yang menonton menyelimuti sepanjang rute kirab budaya terlebih saat menyambut Bupati Batang Wihaji dan Wakilnya Suyono bersama keluarga yang diarak menggunakan kereta kencana spesial dari Solo.
Warga mulai anak kecil, remaja hingga orang tua langsung berhamburan keluar barisan.
Terutama ketika Bupati Wihaji dan istrinya menyebar uang koin.
Dalam tradisi kirab, melempar uang koin disebut sawuran.
"Senang saja ikut rayahan sawuran dari Pak Bupati dan Wakil, ini tadi dapat uang koin ada yang seribuan ada yang 500an," tutur warga Kauman, Pipin kepada tribunjateng.com.
Bupati Batang Wihaji menjelaskan filosofi sawur uang koin atau tabur uang koin yaitu sebagai bentuk syukur.
“Kita harap dengan sawur uang koin masyarakat mendapat berkah, dari mulai pertanian tambah bagus, hasil ikan tangkapan lautannya melimpah masyarakat sehat dan ekonominya tambah baik,” ungkapnya.
Dalam kirab tersebut, selain rombongan Bupati dan Wakil Bupati, di belakangnya yaitu rombongan Forkompinda yang juta turut diarak naik kereta kencana.
Lalu, rombongan kepala dinas dan gunungan dari 15 kecamatan.
Di depan rombongan kereta kencana Bupati Batang adalah barisan tombak pusaka Pemkab Batang.
Rinciannya, satu tombak pusaka Abirawa, disertai delapan tombak lainnya.
Ketua panitia Kirab Budaya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang, Achmad Taufiq menyebut rute Kirab Budaya akan mulai dari Pendopo - jalan Ahmad Yani-jalan Gajahmada.
Kemudian, menuju ke utara di jalan Kyai Haji Ahmad Dahlan- Brigjen Katamso- jalan RA Kartini -berakhir di Pendopo.
"Sebenarnya rute mau diperpendek, tapi melihat antusias masyarakat, kami perpanjang hingga jalan Gajahmada," ujarnya.
Dikatakannya bahwa ada sembilan tombak yang diarak lalu juga pembatasan rombongan gunungan tiap kecamatan menjadi 15 orang.
"Ada perbedaan dari sebelum pandemi, mengingat ini masih situasi pandemi jadi tetap ada batasannya sebelumnya rombongan tiap kecamatan tidak dibatasi, harapannya dengan ini masyarakat puas dan terhibur," pungkasnya.(din)