Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Menkeu: Anak Muda Jadi Pendorong Transformasi Digital

Menurut kajian McKinsey, akselerasi digital selama pandemi setara dengan 3 tahun adopsi teknologi.

Editor: Vito
BPMI Setpres
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, ekonomi digital di Indonesia mencatat peningkatan signifikan, terutama sejak pandemi covid-19.

Menurut dia, ekonomi digital Indonesia tumbuh 49 persen dari 47 miliar dollar AS pada 2020 menjadi 70 miliar dollar AS pada 2021. Angka itu diprediksi akan terus meningkat dan akan mencapai 146 miliar dollar AS pada 2025.

Nilai itupun menjadi yang tertinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN. "Ini tentu merupakan nilai atau volume tertinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lain," katanya, dalam IFG International Conference 2022, di Jakarta, baru-baru ini.

Sri Mulyani meyakini, transformasi digital yang tumbuh pesat ini akan berdampak luas bagi perekonomian, pemerintah, serta masyarakat luas. Pertumbuhannya diproyeksi pesat dan eksponensial.

Hal itu dinilai tak lepas dari penetrasi selama pandemi. Menurut kajian McKinsey, akselerasi digital selama pandemi setara dengan 3 tahun adopsi teknologi.

"Sektor keuangan Indonesia menghadapi tren yang berpotensi menciptakan disrupsi dan inovasi masa depan melalui ekonomi digital dan keuangan berkelanjutan," tuturnya.

Sri Mulyani menjelaskan, pesatnya pertumbuhan ekonomi digital RI didukung oleh populasi anak muda yang telah terbiasa dengan teknologi (tech savvy), serta penetrasi internet yang relatif tinggi.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu meyakini, rambatannya akan positif pada sektor keuangan. Secara berkelanjutan, ekonomi baru ini akan membuka peluang bagi sektor jasa keuangan.

"Jika melihat pesatnya implementasi teknologi digital di Indonesia, industri jasa keuangan terbuka peluang yang sangat besar, disertai urgensi untuk memperkuat pengawasan dan perlindungan konsumen," jelasnya.

Adapun, perkembangan di era digital banking 4.0 dinilai bisa menjadi ancaman serius bagi perbankan jika tidak mengamankan data nasabah dan bank itu sendiri.

Director of Delivery & Operation Telkomsigma, I Wayan Sukerta mengatakan, potensi ancaman itu karena tingginya ketergantungan internet, transaksi, dan layanan digital yang meningkatkan risiko serangan siber.

"Data OJK dan BSSN menyebutkan pada Januari sampai September 2021 ada 920 juta serangan dengan kerugian cukup besar. Dari total itu, 21,8 persen menyerang sektor perbankan dan keuangan, di mana 58 persen serangan siber menggunakan malware, 11 persen trojan, dan sebagainya," ujarnya, dalam webinar "Cyber Crime Emergency: Developing IT Solutions, Behavior, and Awareness In The Banking Ecosystem", baru-baru ini.

Dengan kondisi itu, I Wayan berujar, pelaku industri perbankan dan keuangan harus meningkatkan dan mengelola keamanan siber secara menyeluruh atau terintegrasi.

"Dalam keamanan digital saat ini harusnya bank proaktif, adopsi machine learning, miliki kemampuan tools yang banyak, dan masuk secara mendalam. Kalau kita hanya berbasis reaktif, pintu sudah keburu bobol dan melakukan pemilihannya jauh lebih rumit, serta berdampak besar terhadap risiko reputasi," terangnya. (Kompas.com/Fika Nurul Ulya/Tribunnews/Yanuar R Yovanda)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved