Tribun Jateng Hari Ini
Purbaya Yakin pelemahan Rupiah Tak Picu Krisis Ekonomi
Pelemahan rupiah diyakini tidak akan memicu krisis ekonomi, karena fundamental ekonomi Indonesia masih baik.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meminta publik tidak khawatir dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Ia menegaskan, kondisi itu tidak akan memicu krisis ekonomi, karena fundamental ekonomi Indonesia masih baik. Terlebih, kebijakan di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah disinkronkan dengan otoritas moneter.
"Jadi ke depan ekonomi akan semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat. Investor akan merealisasikan rencana investasinya, yang asing juga akan masuk," katanya, di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Jakarta Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (22/1).
Purbaya memastikan Kemenkeu dan Bank Indonesia (BI) sepakat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ia pun percaya BI memiliki strategi yang tepat untuk mengendalikan nilai tukar.
Sehari sebelumnya, Rabu (21/1), Purbaya bertemu Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Gubernur BI Perry Warjiyo di Kompleks Istana Kepresidenan. Hadir pula Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad.
Purbaya mengaku seluruh pihak dalam pertemuan tersebut berdiskusi dan sepakat rupiah seharusnya tidak selemah sekarang, dan mesti mengarah menguat dari level saat ini.
Ia menyebut, sinergi kebijakan antara Kemenkeu dan BI akan menjaga stabilitas kurs rupiah ke depan.
Purbaya juga menyinggung pergerakan pasar modal yang terus menunjukkan tren positif, dan dinilai penting untuk menarik minat investor.
"Pasar modal itu semacam bendera ke investor seluruh dunia. Di sini ada perubahan positif yang terjadi," ucapnya.
Menurut dia, tanpa kenaikan yang kuat di pasar modal, investor global tidak akan melirik. Namun saat melihat adanya perubahan dan fondasi ekonomi yang membaik, investor mulai masuk.
Purbaya menilai, momentum tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan investasi asing.
"Anda jangan menganggap nggak penting pergerakan pasar modal, karena itu bendera ke banyak investor. Jadi, FDI (Foreign Direct Investment) kayaknya akan mulai banyak masuk ke sini," paparnya.
Menguat
Adapun, nilai tukar rupiah kembali menguat pada penutupan perdagangan Kamis (22/1). Rupiah naik 40 poin atau 0,24 persen ke level Rp 16.896 per dollar AS.
Sementara, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga menunjukkan penguatan, meski berada di posisi Rp 16.902 per dollar AS. Jisdor tercatat menguat 61 poin atau 0,36 persen.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai, rupiah berpeluang menguat terhadap dollar AS seiring dengan meredanya tensi antara AS dan Eropa, setelah Presiden AS Donald Trump menarik kembali ancaman penerapan tarif terhadap negara-negara Eropa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20251003_Menteri-Keuangan-Purbaya-Yudhi-Sadewa-di-Kudus_1.jpg)