Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Magelang

Asita Jateng: Kalau Memang Tarif Naik Candi Borobudur Naik, Mohon Dilakukan Bertahap

Rencana pemerintah untuk menaikkan harga tiket naik Candi Borobudur menjadi Rp 750 ribu per orang sangat disayangkan oleh para pelaku usaha

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Catur waskito Edy
Shutterstock
Ilustrasi senja di Candi Borobudur. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Rencana pemerintah untuk menaikkan harga tiket naik Candi Borobudur menjadi Rp 750 ribu per orang sangat disayangkan oleh para pelaku usaha di bidang industri pariwisata di Jawa Tengah.

Tidak terkecuali para pelaku usaha biro perjalanan wisata. Sebab selain dinilai harga terlalu tinggi, kuota kunjungan yang akan ditetapkan juga dinilai memberatkan.

Selain itu, adanya wacana tersebut juga membuat kaget para pelaku biro perjalanan karena tak mengomunikasikannya terlebih dahulu.

"Mohon untuk pengaturan kuota kunjungan 1.200 per hari itu dikaji kembali. Bila jumlah dirasa masih aman, evaluasi ke depan untuk jumlah kurang relevan bagi kami.

(Jumlah) terlalu sedikit, mengingat untuk Candi Borobudur merupakan destinasi edukasi ataupun sejarah.

Jumlah yang terdetail baik mancanegara, nusantara, ataupun pelajar itu juga belum kami dapatkan untuk pembagian porsi persentasenya.

Mohon bisa dikasih kembali untuk jumlah ditambah per harinya," kata Ketua DPD Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Jawa Tengah Alex Gunarto kepada tribunjateng.com, Selasa (7/6/2022).

"Kemudian kedua, berkaitan dengan kebijakan harga khusus kami sangat kaget mengingat nominalnya begitu fantastis Rp750.000 untuk wisatawan nusantara.

Kita juga tahu, saat kita bersama-sama untuk pulih kembali pasca pandemi," sambung dia.

Menurut Alex, apabila regulasi ini benar-benar diterapkan, dikhawatirkan akan memberikan dampak pada perekonomian di Jawa Tengah.

Dengan adanya kenaikan tarif secara signifikan, menurutnya, akan membuat kunjungan wisatawan menurun.

Hal itu juga dikhawatirkan akan berpengaruh pada daya beli wisatawan yang menurun.

"Artinya, secara otomatis ekonomi kepariwisataan akan terdampak, menurun. Termasuk untuk teman-teman yang ada di area Candi Borobudur yang sudah punya habitat seperti PKL, UMKM, restoran, ataupun investor-investor perhotelan.

Ketika kunjungan menurun, maka secara otomatis juga terdampak ekonominya," terang Alex.

Apabila Naik, Minta Dilakukan Bertahap

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved