Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Guru Berkarya

Make a Match Memperdalam Pemahaman Materi Interaksi antar Negara

Mata pelajaran pada semua jenjang pendidikan memiliki fokus dan konsentrasi tersendiri dalam kehidupan sehari-hari termasuk Ilmu Pendidikan Sosial.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Patmiranti Walyuyarsih SPd, Guru SMPN 3 Kertek Kab Wonosobo 

Oleh: Patmiranti Walyuyarsih SPd, Guru SMPN 3 Kertek Kab Wonosobo

MATA pelajaran pada semua jenjang pendidikan memiliki fokus dan konsentrasi tersendiri dalam kehidupan sehari-hari termasuk Ilmu Pendidikan Sosial atau IPS. IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang menitikberatkan pada pengetahuan tentang manusia dalam semua aspek kehidupan dan interaksinya di masyarakat. IPS mengandung tujuan tentang kehidupan masyarakat manusia dilakukan secara sistematik.

IPS memikul peran sangat penting untuk mendidik peserta didik mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan agar dapat mengambil bagian secara aktif dalam kehidupannya kelak sebagai anggota masyarakat dan warga negara.  Peserta didik juga dituntut dapat mengaplikasikan hubungan sosial atau interaksi sosial dalam ruang kelas berupa interaksi belajar. Sadirman (2004:2) mengemukakan bahwa interaksi belajar mengajar antara guru dengan peserta didik sebagai subyek belajar,

Guru harus mampu memberikan dan mengembangkan motivasi kepada peserta didik agar dapat melakukan kegiatan belajar secara optimal melalui interaksi belajar yang tepat. Salah satu indikator kemampuan pedagogik guru adalah kemampuan mengelola kelas untuk menciptakan kondisi kelas yang optimal sehingga proses pembelajaran menjadi aktif, efektif dan produktif. Hal ini dilakukan agar dapat meningkatkan kreativitas belajar peserta didik yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik.

Kehadiran guru dan strategi pembelajaran yang dipakai dalam proses pembelajaran menempati posisi penting dalam peningkatan aktivitas dan hasil belajar peserta didik. Permasalahan yang muncul selama ini disebabkan kurang dikemasnya pembelajaran IPS dengan menggunakan model yang menarik dan menyenangkan seperti yang terjadi SMPN 3 Kertek Kabupaten Wonosobo. Guru dalam menyampaikan materi pembelajaran masih konvensional, penyampaian materi pelajaran yang didominasi dengan metode ceramah, pemberian tugas dan suasana pembelajaran yang membosankan. Hal tersebut berdampak pada kurang aktifnya peserta didik serta hasil belajar peserta didik yang rendah.

Upaya yang dilakukan guru dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik mata pelajaran IPS di SMP N 3 Kertek Kabupaten Wonosobo kelas 9 khususnya materi tentang Interaksi antarnegara asia dan negara lainnya yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Make A Match. Model Make A Match merupakan model pembelajaran yang mengutamakan penanaman kemampuan sosial terutama kemampuan dalam hal bekerja sama, berinteraksi, di samping kemampuan berpikir dengan cepat melalui permainan dalam mencari pasangan dengan menggunakan bantuan media berupa kartu. Model Make A Match artinya peserta didik mencari pasangan, setiap peserta didik mendapat kartu (bisa soal atau jawaban) lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang.

Model ini cukup menyenangkan untuk mengulang materi. Pada model ini guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan dan permasalahan serta kartu yang berisi jawabannya. Setiap peserta didik mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya, setiap peserta didik mencari kartu yang cocok dengan persoalannya. Peserta didik yang benar mendapat nilai atau reward, kartu dikumpulkan lagi dan di kocok. Babak berikutnya sama seperti babak sebelumnya kemudian dilakukan penyimpulan dan evaluasi.

Model Make A Match ini sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran IPS karena dapat mengembangkan sikap percaya diri pada peserta didik. Selain itu dapat menciptakan suasana kegembiraan dan kerjasama antara peserta didik. Sehingga membawa pengaruh yang besar pada peningkatan hasil belajar peserta didik di SMP N 3 Kertek Kabupaten Wonosobo. Hal ini terlihat dari ketuntasan belajar mencapai 85 persen.

Dengan model pembelajaran Make A Match, peserta didik dapat termotivasi dan aktif dalam mengikuti pembelajaran. Hasilnya adalah tercipta suasana yang menyenangkan berpengaruh pula pada peningkatan hasil belajar peserta didik. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved