Jumat, 17 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Pekalongan

IAIN Pekalongan Resmi Jadi UIN KH Abdurahman Wahid, Rektor: Spirit Luar Biasa

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan, kini resmi beralih status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid Pekalongan (Gus D

Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: m nur huda
TRIBUN JATENG/INDRA DWI PURNOMO
Rektor UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, Prof Dr Zaenal Mustakim. 

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan, kini resmi beralih status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid Pekalongan (Gus Dur).

Transformasi ini ditetapkan di Jakarta pada tanggal 8 Juni 2022, sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 86 Tahun 2022.

Rektor UIN KH Abdurrahman Wahid, Prof Dr Zaenal Mustakim mengatakan, penamaan IAIN Pekalongan menjadi UIN KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur memiliki makna tersendiri. Utamanya, lantaran ingin menyerap berbagai spirit perjuangan Gus Dur.

"Perubahan bentuk ini harus diikuti dengan adanya transformasi keilmuan, secara menyeluruh agar kiprah UIN Gus Dur di masyarakat semakin luas."

"Perubahan bentuk ini juga dilakukan dalam rangka memenuhi tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi dan proses integrasi keilmuan Agama Islam dengan sains serta mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas," kata Rektor UIN KH Abdurrahman Wahid, Prof Dr Zaenal Mustakim kepada Tribunjateng.com, Selasa (14/6/2022).

Menurutnya, perubahan nama dari institut ke universitas ini merupakan awal saja.

"Di dalamnya perlu adanya perubahan, dari mindset, budaya, kinerja, yang nantinya pantas buat universitas," ujarnya.

Persiapan untuk menuju perubahan tersebut, pihaknya akan sering melakukan dialog, seperti menyiapkan visi-misinya, program kerja, dan targetnya semua program tersebut tahun selesai.

"Pertama kali yaitu visi misi dulu harus ada, apa sih yang harus dicapai ketika menjadi UIN, apalagi menyandang nama besar Gusdur," imbuhnya.

Pihaknya mengungkapkan, KH Abdurrahman Wahid merupakan seorang guru bangsa yang menempatkan agama Islam sebagai inspirasi dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Gus Dur selalu berpihak kepada kaum yang tertindas, kaum minoritas, dan marginal," ungkapnya.

Saat disinggung mengenai, penggunaan nama KH Abdurrahman Wahid, Prof Zaenal menceritakan, awalnya merupakan inisiasi dari Menteri Agama Gus Yaqut Cholil Qoumas, karena Gus Dur merupakan seorang teladan yang piawai mendialogkan islam dan negara dalam bingkai kemajemukan Indonesia.

Kemudian, basis keilmuan yang dikembangkan oleh Gus Dur juga merupakan wujud harmonisasi antara rasionalitas dan spiritualitas.

"Seandainya tidak diusulkan Gus Yaqut, kita juga sudah senang UIN itu bernama KH Abdurrahman Wahid Pekalongan (Gus Dur). Sekali lagi, Gus Dur adalah tokoh besar, spirit kebangsaan sangat luar biasa," ucapnya.

Kemudian, keilmuan ini selaras dengan visi keilmuan yang akan dikembangkan oleh UIN Pekalongan yang berusaha mengharmonisasikan kekuatan akal, indera dan intuisi, agama dan sains, serta tradisionalisme dan modernisme.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved