Berita Sragen

Semangat Warga Perumahan Margoasri Sragen Berkurban Sapi di Tengah Wabah PMK

Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih belum hilang Menjelang Hari Raya Kurban.

Penulis: khoirul muzaki | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Khoirul muzaki
Sapi di peternakan warga di Kelurahan Sragen Wetan, Sragen. 

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN- Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih belum hilang Menjelang Hari Raya Kurban (Idul Adha).  Tetapi kondisi itu tidak menyurutkan semangat umat muslim untuk berkurban. 

Meski banyak sapi terpapar PMK, umat muslim tetap antusias berkurban sapi. Seperti di Perumahan Margoasri Desa Puro Kecamatan Karangmalang, Sragen

Idul Adha masih dua pekan lebih lagi, namun umat muslim di komplek perumahan itu sudah antusias mendaftar kurban. 

Terbukti, menurut Suparno, panitia kurban dari RT 24 RW 08 Perumahan Margoasri, sampai saat ini, warga sudah mendaftar kurban untuk 24 ekor sapi. 

"Kami sudah mendapat 27 ekor sapi. Yang sudah dipesan warga untuk kurban 24 ekor sapi," katanya, Kamis (23/6/2022) 

Jumlah itu, menurut dia, dimungkinkan masih akan bertambah sampai menjelang hari raya kurban. 

Pandemi Covid 19 yang membuat ekonomi lesu bahkan tak menyurutkan semangat umat Islam di perumahan itu untuk berkurban. 

Terbukti, pada tahun 2020, warga berkurban sebanyak 33 ekor sapi. Kemudian di momentum Idul Adha tahun 2021, saat pandemi masih mengganas, jumlah sapi untuk kurban di wilayah itu justru bertambah menjadi 37 ekor.  Trennya setiap tahun bertambah. 

Karena itu, di Idul Adha tahun 2022 ini, meski di tengah wabah PMK, pihaknya optimis jumlah sapi yang dikurbankan lebih banyak dari tahun sebelumnya. 

"Ini masih 17 hari lagi Idul Adhanya. Kemungkinan masih akan bertambah. Biasanya 2 hari bisa 1 ekor sapi, " katanya

Masyarakat di tempatnya tidak takut terhadap wabah PMK yang sedang merebak.  Ada atau tidak adanya wabah PMK, pemilihan hewan kurban harus selektif sejak dulu. 

Warga, terutama panitia sudah tahu ternak yang dikurbankan harus memenuhi syarat sesuai syariat Islam. Di antaranya tidak sakit atau cacat.  

Pihaknya pun memastikan sapi yang dibeli dari petani adalah sapi yang sehat sampai hari penyembelihan. 

"Soal penyakit kuku dan mulut sudah ada sejak dulu. Makanya disyaratkan sapi yang dikurbankan harus sehat, tidak cacat, " katanya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved