Berita Banyumas

Beli Minyak Goreng Curah Pakai Aplikasi Peduli Lindungi, Masyarakat Belum Tahu Penggunaannya

Masa sosialisasi penggunaan aplikasi Peduli Lindungi untuk beli MGCR sudah dimulai.

Penulis: Imah Masitoh | Editor: sujarwo
Tribunjateng.com/Imah Masitoh
Pedagang minyak goreng curah di pasar Banyumas saat diwawancara mengenai penggunaan aplikasi Peduli Lindungi untuk membeli minyak goreng curah, Rabu (29/6/2022). 

TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS - Masa sosialisasi penggunaan aplikasi Peduli Lindungi atau NIK KTP untuk membeli Minyak Goreng Curah Rakyat (MGCR) sudah dimulai hari Senin kemarin (27/6/2022). 

Namun belum banyak orang yang tahu mengenai aturan yang baru ini. Sejumlah pedagang di pasar Banyumas mengaku belum mendapatkan informasi resmi dari pihak yang berwenang. 

Pedagang di Pasar Banyumas masih menjual minyak goreng curah seperti biasanya tanpa menggunakan aplikasi Peduli Lindungi ataupun NIK. 

"Belum tahu, kita yang ada di sini masih menjual seperti biasa," kata Siti penjual minyak goreng curah di Pasar Banyumas, Rabu (29/6/2022). 

Respon penjual terkait dengan hal ini merasa keberatan bila harus menggunakan aplikasi Peduli Lindungi maupun NIK nantinya. 

"Sepertinya bakalan ribed. Ngga setuju terlalu menyusahkan nantinya pasti," ungkapnya. 

Menurut Mardiyah (52) salah satu penjual minyak goreng curah di Pasar Banyumas menolak bila harus menggunakan aplikasi Peduli Lindungi. 

Kendala yang pasti akan dialami bila pembelian minyak goreng curah menggunakan aplikasi Peduli Lindungi ialah tidak mahirnya dalam mengoperasikan teknologi sekarang. 

Hingga saat ini belum ada sosialisasi kepada masyarakat khusus pedagang di pasar Banyumas perihal penggunaan aplikasi ini untuk membeli minyak goreng curah. 

"Kebanyakan penjual kan sudah berusia tua, tidak paham mengenai teknologi sekarang. Pegang HP paling cuma buat kepentingan biasa kaya SMS, telefon," ungkapnya. 

Sejumlah pedagang lainnyapun mengaku tidak memegang HP dengan spek baik untuk dapat menggunakan aplikasi Peduli Lindungi. 

"Saya tidak punya HP yang bagus, yang bisa buat itu, masa harus beli dulu buat jual minyak goreng," ucap Nani pedagang minyak curah di Pasar Banyumas

Sejumlah pedagang juga mengaku tidak ingin terlalu ribed dalam menjual minyak goreng nantinya.

Hal ini karena untung yang mereka dapatkan tidak besar dalam menjual minyak goreng dan harus ribed dengan aturan yang ada. 

"Belinya Rp 13.300 jualnya Rp 14.000. Belum beli plastik dan karet untuk mengemas kembali minyak curahnya. Untung ngga sampai Rp 1.000, harus ribed begitu," jelas Siti. 

Menurut para pedagang minyak goreng curah di Pasar Banyumas, konsumen minyak goreng curah bukanlah orang-orang dari kalangan menengah ke atas melainkan orang biasa yang pastinya sama-sama tidak terlalu paham penggunaan teknologi terkini. 

"Yang beli di sini bukan dari konglomerat, belinya saja paling berapa kilo. Paling yang beli orang-orang biasa seperti pedagang warung, dan ibu rumah tangga," jelas Siti. 

Sementara menurut Amin salah satu pembeli minyak goreng curah mengaku akan mengikuti aturan pemerintah yang ada meskipun terkesan menyusahkan nantinya. 

"Saya belum tahu ada aturan itu. Kalau saya mengikuti saja, walaupun ribed jatuhnya, yang penting stok dan harga masih aman tidak menjadi masalah," ungkapnya kepada Tribunjateng.com. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved