Bundesliga
Sadio Mane Tak Mau Hanyut dalam Kemewahan, Ini Alasannya
Namun Sadio Mane mengaku ingin mencari tantangan baru setelah enam musim merumput di Premier League, kasta tertinggi Liga Inggris.
Ayahnya meninggal dunia akibat tak bisa menerima perawatan medis secara memadai.
Ini yang menggerakkan hati Sadio Mane untuk berbakti.
Dia membangun rumah sakit di tanah kelahirannya tersebut sehingga masalah kesehatan bisa terpecahkan.
Tak cuma itu.
Sadio Mane juga membangun sekolah, memberikan laptop kepada setiap siswa, membiayai stasiun pengisian bahan bakar, membangun kantor pos, stadion, menyumbangkan peralatan olahraga untuk semua anak.
Bahkan, Sadio Mane memasang jaringan 4G untuk semua orang di desa.
Belum berhenti di situ kedermawanan pemain internasional Senegal ini.
Sadio Mane pun memberikan 70 euro (sekitar Rp 1,094 juta) untuk semua orang sangat miskin di Senegal sehingga beban hidup setiap keluarga menjadi lebih ringan.
"Saya tidak perlu memamerkan mobil mewah, rumah besar, pesawat terbang atau kapal pesiar.
Saya lebih suka orang-orangku menerima sedikit dari apa yang telah diberikan kepadaku," ungkap Sadio Mane.
Kerendahan hati menjadi alasan utama Sadio Mane menghindari keglamouran dunia ini.
Dia memilih menjadi bintang yang bersinar dan mencerahkan kehidupan rakyat di tanah kelahirannya.
Sadio Mane pun memastikan, hujan jutaan euro jatuh di tempat yang paling membutuhkan.
Sebelum bergabung dengan Bayern, Sadio Mane membantu Liverpool mengangkat trofi Liga Inggris musim 2019-2020 sekaligus mengakhiri penantian panjang selama 30 tahun.
Dia juga menjadi bagian The Reds, julukan Liverpool, ketika merengkuh gelar juara Liga Champions musim 2018-2019.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/sadio-mane-bayern-muenchen.jpg)