Guru Berkarya
Pembelajaran Kontekstual Tingkatkan Kreativitas Menggambar
Pembelajaran pendidikan seni budaya meliputi dua materi kegiatan seni yaitu kegiatan berekspresi/berkreasi seni dan kegiatan berapresiasi seni.
Oleh: Sukadi SSn, Guru SMP Negeri 20 Surakarta
PEMBELAJARAN pendidikan seni budaya meliputi dua materi kegiatan seni yaitu kegiatan berekspresi/berkreasi seni dan kegiatan berapresiasi seni. Hal ini menunjukkan bahwa bahan ajar yang bersifat pengetahua seni tidak diberikan secara terpisah, melainkan secara integratif menyatu dengan bahan ajar kegiatan. Jika dirinci, bahan ajar kegiatan berekspresi/berkreasi seni meliputi kegiatan berkarya seni dan kegiatan penyajian karya seni, sedangkan kegiatan apresiasi seni meliputi kegiatan apresiasi itu sendiri dan kegiatan kritik seni.
Pelaksanaan pembelajaran seni budaya di SMP diintegrasikan dengan kegiatan apresiasi dan/atau kegiatan berkarya seni. Misalnya ketika menyajikan pembelajaran menggambar bentuk, maka penyajian yang bersifat pengetahuan tentang bahan apa saja yang bisa digunakan, objek apa saja yang dapat digambar, teknik apa saja yang dapat di gunakan dan sebagainya, dapat diberikan mendahului kegiatan menggambar bentuk.
Materi ini juga diajarkan di SMP Negeri 20 Surakarta. Pembelajaran menggambar ilustrasi ini ternyata masih terganjal beberapa kendala. Banyak siswa yang memperoleh nilai kurang dari KKM. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kreativitas siswa dalam pemilihan warna dan sentuhan akhir gambar.
Hambatan ini menjadi tantangan bagi guru untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran yang lebih baik. Salah satu upaya yang dilakukan penulis sebagai adalah dengan menerapkan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran Kontekstual merupakan satu konsepsi pengajaran dan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan materi ang dipelajari dengan situasi dunia sebenarnya dan memotivasi siswa untuk membuat kaitan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan harian mereka.
Menurut Sanjaya (2005:109) Pembelajaran Kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan meraka.
Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama, pembelajaran Kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi. Artinya, proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Kedua, pembelajaran Kontekstual mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antaramateri yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Artinya, siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.
Ketiga, pembelajaran Kontekstual mendorong siswa untuk dapat menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan. Artinya, Pembelajaran Kontekstual tidak hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, tetapi bagaimana materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran tidak untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan, tetapi sebagai bekal bagi mereka dalam kehidupan nyata.
Tahapan pembelajaran dengan pembelajaran ini adalah sebagai berikut. Sebelum mengajarkan materi tentang ilustrasi manusia dan kehidupannya, siswa diingatkan kembali pada materi menggambar manusia/proporsi tubuh manusia yang pernah diajarkan. Guru juga memberikan ilustrasi gambar lewat gawai atau gambar yang sudah dicetak. Siswa diimbau untuk memiliki alat pewarna (cat air) dan selalu memberi warna pada gambar mereka sehingga akan terbiasa mewarnai hasil gambar mereka. Guru terus memberi motivasi tentang manfaat menggambar dan membuat gambar yang baik. Hasil karya siswa yang memenuhi syarat dipajang di dinding kelas agar siswa merasa bangga dan bersemangat untuk menghasilkan gambar yang baik.
Penerapan model ini membawa hasil yang positif. Siswa lebih termotivasi untuk menyelesaikan karya mereka dengan lebih detail dan lebih teliti. Pada akhirnya model pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kreativitas menggambar. Hasil belajar mengggambar ilustrasi pun meningkat dan capaian KKM mencapai lebih dari 90 persen. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/Sukadi-SSn-Guru-SMP-Negeri-20-Surakarta_a1.jpg)