Narapidana Pun Direkrut Rusia Jadi Relawan Perang di Ukraina

Penjara dan perusahaan di seluruh Rusia dilaporkan merekrut sukarelawan untuk berperang di Ukraina, untuk menggantikan pasukan yang terkuras.

Editor: Vito
AFP/ALEXANDER NEMENOV
Tentara Rusia berpatroli di sebuah bangunan di Mariupol, Ukraina yang telah dibom, baru-baru ini. Perusahaan dan penjara di Rusia dilaporkan merekrut relawan untuk berperang di Ukraina, diduga karena kekurangan pasukan. 

TRIBUNJATENG.COM, MOSKOW - Serangan Rusia ke Ukraina kian agresif dalam beberapa waktu terakhir, di tengah sejumlah isu yang berkembang, yakni menipisnya pasokan senjata dan kekurangan prajurit.

Terkait dengan isu menipisnya pasokan senjata, Kremlin diketahui membuat rancangan undang-undang (RUU) federal yang memungkinkan Rusia memperbaiki persediaan senjata dan peralatan secara cepat. RUU itu telah diajukan ke Duma Negara pekan lalu.

Sementara terkait dengan kekurangan prajurit, penjara dan perusahaan di seluruh Rusia dilaporkan merekrut sukarelawan untuk berperang di Ukraina. Upaya itu diduga dilakukan militer Rusia untuk menggantikan pasukannya yang terkuras selama perang di Ukraina.

Selama 4 bulan terakhir, Rusia mengerahkan pasukannya untuk merebut wilayah Ukraina di selatan dan timur. Presiden Rusia Vladimir Putin pun telah mendeklarasikan kemenangan di Provinsi Luhansk, setelah merebut Kota Lysychansk pada Minggu (3/7).

Kini, pasukan Rusia dilaporkan mulai bergerak ke Provinsi Donetsk, untuk melanjutkan pertempuran. Senin (4/7) lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu melanjutkan serangan besar-besaran di Ukraina, setelah pasukannya menguasai seluruh wilayah Luhansk.

"Unit militer, termasuk kelompok Timur dan kelompok Barat harus melaksanakan tugas mereka sesuai dengan rencana yang telah disetujui sebelumnya," bunyi perintah Putin kepada Shoigu, seperti dikutip dari Straits Times.

Dilansir The Moscow Times, media investigasi iStories melaporkan, perusahaan militer swasta Wagner Group diduga membuka lowongan relawan perang kepada para narapidana di St. Petersburg dan Nizhny Novgorod. Wagner menawarkan gaji tinggi dan amnesti selama enam bulan dinas.

"Kerabat saya diberi tahu: 'Sangat sulit untuk mendeteksi Nazi di sana (di Ukraina), mereka sangat terlatih'," kata anggota keluarga seorang tahanan yang tidak disebutkan namanya kepada iStories.

Ia menceritakan soal pengakuan kerabatnya tentang pertemuan dengan perekrut. "Mereka berkata: 'Anda akan berada di barisan depan membantu mendeteksi Nazi, jadi tidak semua orang akan kembali'."

Seperti diketahui, Rusia mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari dengan tujuan denazifikasi dan demiliterisasi terhadap tetangganya yang pro-Barat. Setelah gagal merebut ibu kota Kyiv, Rusia mengalihkan fokus serangan ke Ukraina timur untuk merebut Donbas.

Alih-alih kontrak tertulis, relawan penjara dilaporkan ditawari janji lisan sebesar 5 juta rubel (90.500 dollar AS) atau sekitar Rp 1 miliar, yang dibayarkan kepada keluarga jika mereka meninggal.

Di satu penjara St. Petersburg, sebanyak 200 narapidana awalnya menunjukkan minat pada tawaran itu. Sebanyak 40 orang di antaranya akhirnya mendaftar, lapor iStories.

Saat kerabat tahanan itu menghubungi sipir untuk menanyakan soal perekrutan relawan perang, sipir saat itu mengaku baru mendengar hal tersebut.

Upaya perekrutan serupa juga dilaporkan terjadi di dua galangan kapal yang dikelola oleh United Shipbuilding Corporation milik negara, dan perusahaan pertambangan Metalloinvest milik miliarder Alisher Usmanov, menurut sumber The Moscow Times.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved