Kisah Sakban Pasang Harga Bedah Kepala Hewan Kurban di Trotoar Bustaman Semarang
Kampung Bustaman Semarang mempunyai tradisi yang tidak pernah ditinggalkan saat Iduladha yakni bengkel kepala hewan kurban.
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Siapa yang tidak kenal Kampung Bustaman.
Kampung yang terletak di Jalan MT Haryono Semarang dikenal sebagai kampung jagal.
Kampung itu mempunyai tradisi yang tidak pernah ditinggalkan saat Iduladha yakni bengkel kepala hewan kurban.
Bengkel itu melayani memecok kepala hewan kurban untuk diambil jerohannya.
Tradisi tersebut dilakoni oleh Sakban di trotoar jalan MT Haryono setiap tahun. Dirinya terlihat sibuk memecok kepala sapi pesanan pelanggan menggunakan golok.
"Jadi saya disini menguliti kepala. Jadi orang yang order tinggal masak saja," tutur dia, saat didatangi tribunjateng.com, Minggu (10/7/2022).
Sakban mengaku telah membuka bengkel kepala sejak tahun 1998. Dia melakoni tradisi tersebut dibantu keluarga.
"Yang dilakukan adalah mecoki (memecah) kepala dan diambil jeroannya. BIasa yang diambil otak, mata, daging, dan lidah," imbuhnya.
Dia mulai kebanjiran order menguliti kepala hewan kurban saat pagi setelah Salat Iduladha. Selain kepala ,dirinya juga menerima order untuk menguliti kaki hewan kurban.
"Sejak tadi pagi saya sudah mendapat order lima kepala sapi untuk dikuliti," ujarnya.
Tarif yang dikenakan untuk menguliti hewan kurban bervariatif.
Dia mematok harga Rp 400 ribu untuk menguliti kepala dan empat kaki hewan kurban.
Sementara untuk menguliti kepala hewan kurban dirinya mematok tarif Rp 300 ribu.
"Permintaan terbanyak dari wilayah Semarang saja. Kalau dibandingkan tahun lalu permintaan tahun ini lebih banyak ," tutur dia.
Ia menuturkan di saat pandemi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tidak mempengaruhi permintaan untuk menguliti hewan kurban.