China Antisipasi Lonjakan Covid-19, 2.000 Turis Terjebak

Pejabat di kota wisata Beihai tiba-tiba mengunci daerah perkotaan, dan memerintahkan pengujian massal, sehingga membuat ribuan wisatawan terjebak.

Editor: Vito
STR/AFP
ILUSTRASI - Petugas keamanan berjalan di area yang ditutup untuk menangani penyebaran covid-19 di kota Xi'an, provinsi Shaanxi, China, Rabu (22/12/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, BEIHAI - Lebih dari 2.000 turis terdampar di kota pesisir China setelah lonjakan kasus virus corona membuat pemerintah menerapkan lockdown mendadak covid-19 di wilayah itu.

Pejabat di Beihai mengunci daerah perkotaan, dan memerintahkan pengujian massal terhadap 1,9 juta penduduknya selama akhir pekan.

Penguncian itu dilakukan saat kekhawatiran terus berkembang soal dampak strategi 'nol-covid' China pada negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Pekan lalu, angka resmi menunjukkan ekonomi negara itu menyusut pada kuartal kedua tahun ini, karena pembatasan covid-19 melanda perusahaan dan konsumen.

Kota Resor Beihai, yang merupakan tujuan musim panas populer di wilayah Guangxi selatan China, mencatat lebih dari 450 infeksi dalam 5 hari hingga 16 Juli.

Tingkat kasus itu mungkin tampak rendah menurut standar internasional, namun hal itu dianggap tinggi di bawah pendekatan pemerintah China terhadap pandemi.

Komisi Kesehatan Nasional China pada Selasa (19/7), mengumumkan sebanyak 699 kasus baru penularan domestik yang terdeteksi selama 24 jam sebelumnya, di mana sebagian besar tidak menunjukkan gejala.

Pada Minggu (17/7), pemerintah daerah Beihai mengatakan, wisatawan yang tidak melakukan kontak dengan siapa pun yang tertular virus, atau mengunjungi daerah berisiko sedang atau tinggi, akan diizinkan pergi jika mereka menunjukkan tes covid-19 negatif.

“Sisanya harus tinggal di kota dan dikarantina,” kata para pejabat pada konferensi pers, sebagaimana dilansir BBC pada Selasa (19/7).

Seorang turis yang sedang berlibur di Beihai mengungkapkan kekesalannya dalam komentar di platform media sosial Douyin, TikTok versi China, yang telah menerima lebih dari 2.700 'suka'.

"Saya baru saja menyelesaikan penguncian 3 bulan saya di Shanghai. Saya baru saja datang ke Beihai untuk menghirup udara segar, apakah saya mengganggu siapa pun?" katanya.

Di tempat lain di China, pihak berwenang meningkatkan langkah-langkah untuk memerangi meningkatnya kasus covid.

Pada Senin (18/7), pemerintah daerah Shanghai mengatakan akan mewajibkan penduduk di lebih dari setengah 16 distriknya untuk menjalani tes covid-19, setelah mengadakan tes serupa minggu lalu.

Pusat keuangan, perdagangan, dan manufaktur utama China itu hanya dibuka kembali pada Juni setelah penguncian dua bulan. Ini adalah satu dari beberapa kota besar China yang menangani kelompok infeksi baru.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Baca Juga
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved